Suatu hari sepupu saya bertanya, “Mbak Leni, kenapa sih kok bisa suka banget sama Belanda?”. Ya, waktu itu dia terheran-heran kenapa saya benar-benar memperjuangkan segala cara untuk bisa ke Belanda, mulai dari mencari-cari beasiswa Master hingga yang terakhir adalah mati-matian membuat banyak artikel untuk kompetiblog ini. Jujur saja waktu itu saya menjawab, “Gak tau, ya. Sejak ngambil kuliah bahasa Belanda, tiba-tiba aja jadi suka”. Jawaban yang aneh, bukan?
Namun, setelah saya pikir-pikir lagi, mungkin salah satu sebab musabab awal saya menyukai Belanda adalah karena sebuah cerita pagi hari di kelas itu. Sudah menjadi rahasia umum bahwa metode pengajaran di kelas bahasa dan kelas ilmu-ilmu sains memang berbeda. Saya yang merupakan mahasiswi jurusan ilmu perkodingan ternganga-nganga dan takjub mendapati atmosfer kuliah bahasa Belanda dasar yang ramah dan humanis. Di kelas bahasa, dosen tidak hanya mengajarkan murid-muridnya agar bisa berbahasa dengan baik dan benar. Ia juga mendongeng. Mendongeng tentang kerja keras orang Belanda dalam mempertahankan negaranya dari ancaman banjir yang terus menerus juga tentang kerendahan hati juga budi baik orang Belanda dibandingkan dengan warga Eropa lainnya. Dan layaknya anak-anak kecil polos nan rupawan yang baru saja mendapatkan cerita-cerita indah mengenai negeri di seberang lautan, saya pun terpana sejadi-jadinya.
Berbicara mengenai budi baik dan kerendahan hati orang Belanda, saya berada di antara dua kutub. Antara histori kesedihan masa silam dengan hal-hal baik yang tertera di lapangan saat ini. Mengingat histori masa lalu, tentu saja saya tak bisa memungkiri bahwa pasti ada dendam tersendiri di kalangan beberapa rakyat Indonesia yang tersakiti karena penjajahan mereka. Tapi, saya tak ingin membahasnya. Hal itu sudah beda dunia. Sudah tertelan bersama waktu dan tak bisa diputar ulang. Lagipula, kita tidak ingin mengingatnya lagi, kan?
Saya hanya ingin bercerita ke kamu semua, bahwa di balik topeng penjajah di masa silam, Belanda juga memiliki sebongkah rasa kasih untuk sesamanya yang diwujudkan melalui inovasi-inovasi di bidang kemanusiaan.
* * *
Di Belanda, hak-hak dan kebutuhan bagi penyandang cacat sangat diperhatikan. Pemerintah maupun warganya benar-benar bergotong royong bersama untuk membuat hidup penyandang cacat tersebut selayaknya orang normal lainnya. Tidak tanggung-tanggung, sudah hampir semua sektor yang ada di Belanda juga memperhitungkan keberadaan penyandang cacat tersebut sebagai entitas yang memiliki hak untuk diperhatikan.
Jalanan dan Transportasi yang Ramah
Membaca beberapa artikel mengenai hal ini, saya jadi berimajinasi sendiri. Pergi ke negeri Kincir Angin, menyusuri jalan-jalannya dan melihat bukti-bukti kepedulian bagi penyandang cacat di mana-mana. Katanya, banyak sekali ramp (jalan alternatif untuk orang-orang yang tidak dapat menggunakan tangga) yang dibangun untuk memudahkan mereka yang memiliki keterbatasan dalam mengakses bangunan-bangunan utama di Belanda.
Tidak hanya itu, ternyata hampir semua moda transportasi di Belanda pun sudah dirancang untuk mengakomodir mereka-mereka yang memiliki keterbatasan. Contohnya adalah The Dutch Railways atau Nederlandse Spoorwegen (NS). Kereta api tersebut menyediakan banyak fasilitas yang diperuntukkan bagi pengguna kursi roda juga bagi mereka yang memiliki keterbatasan dalam penglihatan dan pendengaran. Fasilitas tersebut antara lain adalah tactile guidance lines yang berguna untuk membantu para tunanetra dalam berjalan menyusuri stasiun dan platform serta mobile ramp yang bermanfaat bagi para pengguna kursi roda untuk naik dan turun dari kereta. Bahkan di website The Dutch Railways sendiri, kamu bisa melihat alat bantu bagi mereka dengan keterbatasan penglihatan dan pendengaran dalam memahami informasi-informasi yang diberikan oleh website.
Selain kereta, ada juga moda transportasi yang dinamakan Boonstra. Taksi yang dapat ditemukan di Amsterdam ini merupakan taksi yang diperuntukkan khusus bagi pengguna kursi roda. Para penumpang dapat menaiki taksi tersebut melalui sebuah ramp khusus yang ada di belakang mobil. Pemiliknya merupakan orang Belanda yang bernama Dick Boonstra. Hmm, jadi berpikir, seandainya di Jakarta ada moda transportasi yang nyaman bagi penyandang cacat seperti ini, pasti asyik banget, ya? Bepergian pun jadi lebih aman
Penumpang Dimasukkan ke Taksi Boonstra. Credit: AbilityTrip.Com
Teknologi yang Memudahkan dan Mencerdaskan
Selain di bidang transportasi, para penyandang cacat di Belanda pun bisa menikmati teknologi-teknologi yang memudahkan. Contohnya adalah Grootveld, sebuah website yang berisi informasi-informasi penting mengenai alat-alat yang mampu membantu para penyandang cacat dalam kehidupan sehari-hari. Pembuatnya adalah seorang insinyur yang juga merupakan seorang ayah dari dua anak dengan keterbatasan fisik bernama Grootveld.
Website Grootveld. Credit: Grootveld
Inovasi lainnya yang lebih menakjubkan dan sekaligus mencerdaskan adalah layanan perpustakaan elektronik untuk mereka yang memiliki keterbatasan penglihatan di Belanda. Walaupun Belanda saat ini telah memiliki lima perpustakaan tuna netra (Libraries for the Blind) yang didanai oleh pemerintah setempatnya, mereka masih terus saja mengembangkan inovasi terbaru untuk memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakatnya yang memiliki keterbatasan. Layanan perpustakaan elektronik yang berada di bawah payung FNB Netherlands (Dutch Federation of the Libraries for the Blind) ini menyediakan banyak kemudahan, antara lain buku-buku Braille, fasilitas pengunduhan majalah-majalah dan koran yang dapat dibaca melaui suatu program khusus, ribuan dokumen digital dari sekitar 110 disiplin ilmu yang dapat diunduh dalam beberapa menit, forum diskusi mengenai subjek-subjek yang mungkin menarik bagi para anggotanya, bahkan juga market-place di mana para anggotanya dapat melakukan jual beli berbagai macam jenis barang. Selain itu, FNB Netherlands masih juga mengembangkan proyek-proyek lainnya yang dapat memberikan kemudahan bagi para anggotanya dalam mendapatkan ilmu pengetahuan di berbagai bidang. Salah satu contoh proyeknya adalah Accessible Music website, sebuah website yang dikembangkan sebagai sebuah sumber komprehensif bagi mereka yang tertarik pada masa depan accessible music, seperti braille music, talking music, dan modified print music.
Mantap, gak sih? Jujur aja loh, saya merinding baca inovasi-inovasi tersebut. Di Indonesia aja saya baru tahu satu yayasan yang memang concern menyediakan pengetahuan untuk para tuna netra melalui buku-buku Braille-nya dan spoken books-nya, yakni Yayasan Mitra Netra. Saya jadi membayangkan seandainya kemajuan teknologi Indonesia pun seperti Belanda, tentu saja pemerataan pengetahuan juga hiburan di kalangan para penyandang cacat bukanlah sesuatu yang mustahil.
Hiburan yang Membahagiakan
Ya, bahkan di Belanda, ada perusahaan games yang berbaik hati menciptakan sebuah hiburan untuk para penyandang cacat, terutama sekali untuk para tuna netra. Games yang diciptakan namanya Drive. Utrecht School of the Arts bersama dengan Bartimus Institute for the Blind menciptakan Drive yang membuat pemain dapat mengendarai sebuah kendaraan bernama Shuttle menyusuri sebuah trek dengan didampingi co-pilot bernama Bob. Drive yang hanya mengandalkan suara tanpa grafis, diklaim sebagai games balap-balapan pertama untuk tuna netra.
Cover games Drive. Source: Creativehero
Selain games, beberapa orang kreatif di Belanda juga menggarap ranah hiburan yang disajikan oleh kotak ajaib bernama televisi. Ya, Federation of Organisations for Visually Impaired People (FSB) bekerja sama dengan NOS (perusahaan publik di bidang broadcasting) serta Dutch Federation of Libraries for the Blind (FNB Netherlands) membuat sebuah terobosan yang disebut Spoken Subtitles.
Di Belanda, banyak program televisi yang berasal dari negara-negara luar. Hal tersebut menyebabkan kebutuhan akan subtitle dalam bahasa Belanda adalah keharusan. Spoken Subtitles membuat program-program acara semacam itu dapat diakses juga oleh mereka yang memiliki keterbatasan penglihatan. Spoken Subtitles bekerja dengan membuat sebuah servis yang secara otomatis menghasilkan talking subtitles menggunakan teknologi synthetic speech.
* * *
Sebagai penutup, saya ingin mengajak teman-teman semua yang sudah membaca artikel ini untuk bisa mengambil sisi-sisi positif dari yang telah dipaparkan. Saya melihat, sebenarnya orang Indonesia pun tidak kalah kreatif, pintar, dan cemerlangnya dibandingkan orang Belanda. Hanya saja terkadang yang sering kita lupakan adalah bagaimana membuat sebuah karya yang tidak hanya inovatif tapi juga karya yang memiliki hati, karya yang juga bisa membantu orang-orang di sekitarnya mencapai taraf hidup yang lebih baik. Ya, karya yang tidak egois. Semoga saja, ilmuwan-ilmuwan muda kita, pemerintah kita, atau siapapun nanti punya semangat seperti semangat orang-orang Belanda dengan inovasi-inovasinya yang telah saya utarakan tadi.
Sangat menyenangkan kalau nanti kita tidak hanya dapat award sebagai negara dengan senyum paling ramah, tapi juga negara yang benar-benar ramah dalam memperlakukan warganya sendiri, terutama mereka yang mengalami keterbatasan fisik.
Referensi:
Spoken Subtitles: Making Subtitled TV Programmes Accessible
Virtual Reality Used for Blind to Map Real World
Notes for the Disabled in the Netherlands
Amsterdam, North Holland, Netherlands
Travelling with Functional Disabilities
Electronic Library Services for the Visually Disabled in the Netherlands






bagus banget kak, jadi inget tugas pertama mata kuliah Human Computer Interaction : “Design game concole / computer hardware for handicapped people” . Ternyata di Belanda sudah diimplementasikan
. Baru tau ternyata teknologi berperan penting juga dalam hal ini
, hmm… adalah tugas kita untuk memaksimalkanya agar bisa memberi lebih banyak manfaat bagi orang banyak
Thanks krisna..
Betul itu, teknologi yang baik tidak hanya memudahkan tapi juga memberi lebih banyak manfaat untuk orang-orang
Btw, aku juga denger dari mba Mika 2004, tugas kuliah kalian di sana sepertinya memang bagus-bagus, menarik, juga bermanfaat ya.. Mantap, lah!
wah keren ….
ada game tanpa grafis hehe…
jadi pengen coba..
laik diss
saya juga pengen coba tuh..
tapi sepertinya bakalan sering kalah.. karena gak terbiasa hehe
tulisan yg bagus…semoga cita2 ke Belanda kelak berhasil…good luck
Terimakasih ya!

Saya juga sudah mampir ke blog-mu..
Semoga Fullbrightnya berhasil!
Tadinya saya juga mau daftar Fullbright, tapi gak jadi hehe..
Owhh,,saya baru tahu bahwa kaum “marjinal” di sana pun sangat diperhatikan ya oleh pihak Belanda,,, I like this…
Salam semangat selalu
Yap, setidaknya kaum “marjinal” di sana lebih diperhatikan daripada kaum “marjinal” di Indonesia.. Itu yang saya tahu dari artikel-artikel..
Semoga bisa beneran ke sana dan melaporkan pandangan mata secara langsung.. hehe
yep betul.. karya yang tidak egois dan tidak pragmatis. semoga Indonesia bisa mengadaptasi nilai itu ^^
Suka banget sama taksinyaa! Keren!
aminn aminn.. semoga tar para akademisi muda, ilmuwan muda, generasi muda Indonesia bisa mengadaptasi nilai-nilai itu dalam tiap karyanya..
* * *

iya, taksinya keren hoho..
baca tulisan sendiri jadi merasa kok kayaknya kita (Indonesia) udah ketinggalan zaman banget ya
infrastrukturnya kacau.. en bla bla bla lainnya
jadi sedih
moga aja suatu saat kita bisa makin berbenah
Sepertinya “passion” yang membuatmu bikin 3 postingan informatif tentang Belanda yak.
Oiya, saya pun selalu suka belajar di dunia yang berbeda dengan jurusan saya. Saya engineer, tapi saya sangat suka dunia puisi dan cerita.. lebih humanis, seperti kata Leni.
Hope the best for you!
iya, kang..
impian saya itu salah satunya berkunjung dan (kalau bisa) studi ke Belanda..
Mohon doanya aja semoga kesampaian ya
Wah saya jadi tahu tentang keramahan orang Belanda sama difabel. Thanks for sharing!
iya, sama-sama ya Ifta..
Semoga aja orang-orang Indonesia juga memperlakukan teman-teman difabel dengan ramah..
kapan ya mbak, negara kita bisa seperti itu..?
tapi mungkin smua berawal dari kita sendiri..
btw, gud luck ya mbak..
gud luck juga buat saya, hehe
betul-betul… semuanya bermula dari kita sendiri..
btw makasih dah mampir di blog. semoga berhasil juga
Tiga artikelnya keren-keren!! Dan setuju.. semoga pemerintah bisa lebih “ramah” kepada masyarakatnya
hehe.. tengkyu banget iyra..
maaf belum sempat menyambangi blogmu
iya nih.. semoga ke depannya pemerintah kita bisa makin “ramah” sama masyarakatnya, terutama mereka yang menyandang disabilitas
Assalamu’alaikum
Salam kenal Mbak Leni. Saya senang baca artikel Mbak Leni yang dengan sengaja mengangkat cerita penyandang disabilitas (pengganti kata penyandang cacat) yang lebih maju dari Indonesia. Saya juga seorang penyandang disabilitas yang dengan khusus mengangkat cerita dan permasalahan penyandang disabilitas di Indonesia. tukeran link, ya.
Terima kasih
wa’alaikusalam..

salam kenal juga bapak
senang deh bapak mampir ke mari
semoga aja artikel saya ini sedikit banyak berguna juga..
paling tidak untuk melihat ternyata dari segi inovasi dan perhatian pada penyandang disabilitas, Indonesia (khususnya Jakarta sebagai kota metropolitan, kota yang sering dijadikan acuan kemajuan kota lainnya) masih harus banyak belajar dari negara lain..
Mungkin gak hanya bangun jalur sepeda saja yang perlu jadi perhatian..
tapi jalan-jalan alternatif (ramp) untuk penyandang disabilitas perlu dijadikan agenda pembangunan juga nantinya..
Makasih sudah memberikan perhatian kepada kaum marjinal. Saya dan kawan-kawan saya yang terus memperjuangkan hak-hak sebagai warga negara perlu juga dukungan dari banyak pihak. Blog Mbak Leni ini sudah membantu memberi gambaran kepada masyarakat luas tentang gambaran di negeri luar. Bagi saya Belanda terlalu jauh buat Indonesia. Taiwan saja yang negara kecil sudah sangat peduli kepada penyandang diabilitas di sana. Saya merasakan betul layanan yang mereka berikan kepada saya saat berkunjung ke sana. Semoga pemerintah dan steakholders membuka mata akan hal ini.
hhooo… ternyata artikel yang ini rupanya, yang berhasil membawa kesuksesan ke Leni..sip2…
maju terus sist’…
selamat ya udah masuk 15 besar… =)
hehe sama2x bung Doni..
uffhhh deg2xan XD
Inovasi-inovasi yang sangat manusiawi ya buat para disabled people,.. Bentuk ketidak egoisan mereka, dengan mempermudah hidup kaum2 ini. Apalagi tentang perpustakaan buat tuna netra, WOW… mereka disana sangat beruntung, punya kualitas hidup yang lebih bagus.
Btw, kamu bisa bahasa Belanda?
, selamat jadi 15 finalist yaaa… salam kenal.
menarik…
Betul, betul..
Sudah saatnya, kita juga memperhatikan para disabled people sekarang. Walau gak bisa dipungkirin, ada banyak dari disabled people ini yang sungguh luar biasa. Tangguh2x, mandiri, berprestasi, tapi tetap saja perlu dipikirkan
Aku cuman bisa sedikiiiiiiit banget bahasa Belanda. Lagi ingin memperdalam lagi nih hihi..
Iya,juga..
Btw, aku favoritin tulisan kamu loh
tiga hari lagi suciiiiiiiiiii!!!!! Semoga dapeeeetttt!!
Pingback: Perjalanan Asa Menuju van Oranje « Online Journal of Leni