To Be a Good Moslem

Amal Saleh & Keikhlasan (1)

Tulisan ini diambil dari blog lama saya, di sini. Karena dibuang sayang, lebih baik dipindahkan saja ke sini. Ya, itung-itung sembari nunggu ide tulisan barunya muncul. Hehehehe.. Semoga bermanfaat yaa🙂

* * *

Salah satu episode tulisan untuk “mengikat” ilmu.

* * *

Syarat bagi Perindu Rabb-nya

Al-Qur’an berkata dalam surat Al-Kahfi ayat 110:

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”.

Kalau membaca ayat tersebut, kita bisa melihat bahwa untuk seseorang yang sangat merindukan pertemuan dengan Allah dan untuk menjadi seseorang yang dirindui oleh Allah, ada dua syarat. Yakni mengerjakan amal saleh dan tidak mempersekutukan-Nya.

Hanya karena dua syarat saja yang dibutuhkan, bukan berarti hal tersebut mudah dicapai. Namun, bukan berarti pula sulit untuk dicapai. Ada banyak hal yang harus kita perhatikan, terutama mengenai faktor pertama, yakni amal yang saleh.

Amal Saleh

Berbicara mengenai amal saleh memang mudah. Tapi, implementasinya sulit luar biasa. Karena melibatkan dua hal yang tidak kasat mata dan sulit dinilai dengan parameter-parameter ilmiah. Suatu amal dikatakan sebagai amal yang saleh, apabila memenuhi dua hal berikut ini:

  1. Ikhlas & lurus niat
  2. Sejalan dengan sunnah dan syariat

Dua hal yang sederhana dalam kata, tapi tidak sederhana dalam laku.

Ikhlas

Imam Syahid Hasan Al-Banna menerangkan ikhlas sebagai berikut, “Yang saya maksud dengan ikhlas adalah seorang al-akh hendaknya mengorientasikan perkataan, perbuatan, dan jihadnya kepada Allah; mengharap keridhaan-Nya dan memperoleh pahala-Nya, tanpa memperhatikan keuntungan materi, prestise, pangkat, gelar, kemajuan, atau kemunduran. Dengan itulah ia menjadi tentara fikrah dan aqidah, bukan tentara kepentingan dan yang hanya mencari manfaat dunia. Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam (Al-An’am: 162). Dengan begitu, seorang Al-akh telah memahami makna slogan abadinya: Allah tujuan kami”.

Ikhlas, adalah satu kata yang membutuhkan lebih dari satu usaha untuk mengamininya. Ikhlas adalah ketika kita hanya berharap keridhaan-Nya dan bukan ridha manusia dalam beramal. Tidak ada sebersit pun keinginan-keinginan jiwa yang mendominasi, seperti menginginkan pujian, harta, juga ketenaran dari manusia lainnya.

Ikhlas juga merupakan hasil dari kesempurnaan pemahaman seseorang terhadap tauhid, yakni mengesakan Allah dalam beribadah, berharap hanya ridha-Nya, dan menutup mata dari yang lainnya. Oleh karena itulah mengapa pada akhirnya riya (tidak ikhlas dalam berbuat dan berharap pujian) dianggap sebagai sebuah kesyirikan (syirik kecil). Dan itulah pula sebabnya dalam surat Al-Kahfi ayat 110, kita menjumpai syarat lainnya selain amal saleh, yakni tidak mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.

Rukun Diterimanya Amal

Telah dituliskan sebelumnya bahwa suatu amalan saleh tidak akan diterima oleh Allah, kecuali jika dua rukun telah terpenuhi, yakni keikhlasan dan lurusnya niat, serta amalan tersebut dilakukan sejalan dengan sunnah dan syariat.

Dalam surat Al-Mulk ayat 2, terdapat firman Allah yang berbunyi, “Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya (ahsanu amalan)”. Ketika itu, ada seseorang yang bertanya kepada Fudhail bin Iyadh sebagai berikut, “Apakah yang dimaksud dengan ahsanu amalan atau amalam yang paling ikhlas dan paling tepat?”. Lalu, Fudhail pun menjawab, “Sesungguhnya, suatu amal itu bila dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak tepat, maka tidak diterima oleh Allah, dan bila dilakukan secara tepat tetapi dengan tidak ikhlas, maka tidak diterima (oleh Allah). Amal tidak diterima sehingga dilakukan dengan ikhlas dan tepat. Yang dimaksud ikhlas adalah menjadikan amal untuk Allah, sedangkan tepat adalah sesuai dengan sunnah (Rasulullah saw)”.

Indikasi Keikhlasan

Beberapa hal di bawah ini adalah indikasi-indikasi dari keikhlasan seseorang:

1. Khawatir terhadap ketenaran

Seseorang yang ikhlas akan khawatir terhadap ketenarannya karena ia meyakini bahwa meskipun ketenarannya telah tersebar ke segala penjuru, ketenaran itu tetap tidak akan dapat menolongnya dari siksa Allah jika Allah menghendaki.

Ibnu Mas’ud berkata: “Jadilah kalian sebagai sumber mata air ilmu; lampu-lampu (cahaya) petunjuk yang menetap di rumah-rumah; pelita di waktu malam yang hatinya selalu baru, yang kusut pakaiannya, dan dikenal oleh penduduk langit, tetapi tersembunyi dari penduduk bumi”.

Fudhail bin Iyadh berkata: “Bila kamu mampu menjadi orang yang tidak dikenal, maka lakukanlah. Sebab, apa kerugianmu tidak dikenal? Apa kerugianmu bila tidak dipuji? Dan apa kerugianmu bila kamu menjadi orang yang tercela di hadapan manusia, tetapi terpuji di hadapan Allah SWT?”

Namun, perkataan di atas bukanlah berarti sebagai ajakan untuk mengisolasi diri karena orang-orang yang mengatakan hal-hal tersebut pada zamannya adalah tokoh-tokoh yang bergaul juga di masyarakat serta memiliki pengaruh baik dalam membina masyarakat. Seruan di atas cukup dipahami sebagai sebuah peringatan agar kita waspada terhadap syahwat jiwa yang tersembunyi juga kehati-hatian terhadap pintu-pintu dan jendela-jendela yang dapat dilalui setan dalam menembus hati manusia.

Pada hakikatnya ketenaran bukan suatu hal yang tercela, karena tiada yang lebih terkenal daripada nabi dan khulafaur rasyidin. Karena itu, ketenaran yang tidak dipaksakan dan bukan didasari oleh niat ambisius, tidak dianggap sebagai suatu kesalahan. Imam Al-Ghazali mengatakan: “(Ketenaran itu) fitnah bagi orang-orang yang lemah (keimanan) dan tidak demikian bagi orang-orang yang kuat (keimanannya)”.

2. Orang ikhlas selalu menuduh dirinya teledor dalam menunaikan hak-hak Allah dan kewajibannya

Seorang yang ikhlas hatinya tidak dirasuki oleh perasaan ghurur (tertipu) dan terkagum dengan diri sendiri. Bahkan, ia selalu takut dengan kesalahan-kesalahannya tidak diampuni, dan kebaikan-kebaikannya tidak diterima oleh Allah SWT.

Dahulu, sebagian orang shalih menangis pilu saat sedang sakit, lantas sebagian orang yang menjenguknya bertanya: “Mengapa engkau menangis, padahal engkau telah puasa, shalat malam, berjihad, bersedekah, haji, umrah, mengajarkan ilmu dan berdzikir”. Ia menjawab: “siapa yang dapat menjamin bahwa itu semua memperberat timbangan amal baikku, dan siapa yang menjami bahwa amalku diterima di sisi Tuhanku? Sementara Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertaqwa”. (Al-Maidah:27)

3. Orang ikhlas mencintai amal yang tersembunyi daripada amal yang dipublikasikan

Seorang yang ikhlas lebih mengutamakan menjadi seperti akar pohon dalam beramal. Menjadi akar pohon, ia tetap melakukan tugasnya untuk membuat pohon berdiri kokoh dan tegak, namun di saat itu pula, ia lebih memilih untuk tetap “berada di dalam tanah”.

4. Tidak menggubris keridhoan manusia apabila di balik itu terdapat kemurkaan Allah

Ada sebuah syair yang bisa menjelaskan poin ini dengan gamblang

Dengan-Mu ada kelezatan, meski terasa pahit, kuharapkan ridha-Mu; meski seluruh manusia marah

Kuharapkan hubunganku dengan-Mu tetap harmonis; meski hubunganku dengan seluruh alam berantakan

Bila cinta-Mu kudapatkan, semua akan terasa ringan; sebab, semua yang di atas tanah adalah tanah belaka

2 thoughts on “Amal Saleh & Keikhlasan (1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s