To Be a Good Moslem

Amal Saleh & Keikhlasan (2)

Nah, ini lanjutan dari tulisan pertama.. Juga diambil dari tulisan di blog saya yang lama

* * *

5. Amalnya saat menjadi pemimpin dan saat menjadi anggota tidak berbeda, selama keduanya masih ditujukan untuk Allah dan dalam kerangka sunnah serta syariat

Hatinya tidak dirasuki penyakit suka tampil, ingin di depan barisan, ingin memegang kendali dan ambisi menguasai pusat-pusat kepemimpinan. Bahkan, orang yang ikhlas lebih mengutamakan menjadi anggota biasa, karena khawatir tidak dapat menunaikan kewajiban-kewajiban dan tanggungjawab kepemimpinannya. Dengan kata lain, orang ikhlas tidak menginginkan dan tidak meminta jabatan untuk dirinya, tetapi bila diberi amanah, ia menerimanya dengan tanggungjawab dan memohon pertolongan kepada Allah untuk melaksanakan sebagaimana mestinya.

Rasulullah saw telah menjelaskan model manusia seperti itu dalam sebuah sabdanya: “Berbahagialah seorang hamba yang memegang tali kudanya di jalan Allah, rambutnya acak-acakan, dan dua kakinya berdebu. Bila ia (ditugaskan) di pos penjagaan, ia tetap di pos penjagaan, dan bila (ditempatkan) di barisan belakang, ia tetap di barisan belakang tersebut..” (Fathul Bari 6/95, no. 2887)

Semoga Allah meridhai Khalid bin Walid saat dicopot dari jabatannya sebagai panglima pasukan. Ia tetap beramal dengan giat di bawah komando Abu Ubaidah yang menggantikannya, tanpa menggerutu dan tanpa mengomel. Padahal ia adalah seorang panglima yang selalu mendapatkan kemenangan.

6. Kecintaan dan kemarahannya, pemberian dan keengganannya untuk memberi serta keridhaan dan kemurkaannya adalah karena Allah dan agamanya

Kadang kita melihat ada sebagian orang yang marah, menggerutu, lalu meninggalkan aktivitas, pergerakan dan menjauh dari medan perjuangan, gara-gara ada yang mengucapkan kata-kata yang menyakiti hatinya, melukai perasaannya atau menjelekkan salah seorang teman dekat dan kerabatnya.

Padahal keikhlasan tujuan seharusnya menjadikannya tetap melanjutkan perjuangan dan komitmen pada orientasinya, betapapun banyaknya orang yang melakukan kesalahan, kelengahan atau melampaui batas. Sebab, ia beramal untuk Allah SWT bukan untuk kepentingan dirinya, keluarganya atau si fulan dan si fulanah dari kalangan manusia.

7. Panjangnya perjalanan dalam berjuang, lamanya memanen hasil perjuangan, tidak membuatnya malas, kendur, atau meninggalkan hal yang diperjuangkannya

Sebab, ia beramal tidak hanya untuk mencari keberhasilan atau mencari kemenangan. Akan tetapi, ia beramal untuk mendapatkan keridhaan Allah dan karena menjalankan perintah-Nya.

Pada hari akhir nanti, Allah tidak akan menanyakan kepada manusia, mengapa kalian tidak mendapatkan kemenangan? Allah tidak akan menanyakan, “Mengapa kamu tidak berhasil? Tetapi, Allah akan menanyakan, “Mengapa kamu tidak beramal?”

8. Bergembira dengan munculnya orang-orang lain yang lebih berprestasi dan bersemangat dalam berjuang.

Orang yang ikhlas tidak akan iri terhadap kemunculan orang-orang yang memiliki visi sama dalam berjuang bahkan apabila ternyata orang tersebut lebih segalanya dari dirinya. Ia justru akan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada mereka untuk terus mengembangkan kemampuan dan menggantikan posisinya dalam melanjutkan perjuangan.

Tentang poin ini, sebenarnya saya jadi ingat sebuah diskusi dengan sobat saya. Bahwa ada dua reaksi manusia dalam menanggapi fenomena “munculnya orang-orang lain yang lebih berprestasi dan sukses dari kita”, yakni generous growing dan jealous limiting. Seseorang yang ikhlas dapat dikatakan juga sebagai seseorang yang memiliki sifat generous growing, yakni ia bahagia melihat kesuksesan orang lain dan mendukung perkembangannya (growing). Menurut saya orang-orang generous growing inilah yang dapat berperan sangat baik sebagai seorang positive influencer dalam membangun bangsa. Karena ia tidak berkutat pada dirinya, tetapi juga memberikan dukungan-dukungannya pada orang lain. Sedangkan seseorang yang jealous limiting jelas akan membuat dirinya sendiri merugi juga merusuhi orang lain. Ia akan melakukan segala cara untuk menghalangi perkembangan orang-orang di sekitarnya. Ia hanya berkonsentrasi bagaimana membuat dirinya sebagai yang paling menonjol dan berpengaruh.

* * *

Akhir kata, saya mohon maaf, kalau… postingan ini dirasa terlalu panjaaang. Semoga saja ada manfaat dan ilmu yang bisa diambil. Intinya, apapun yang kamu lakukan, seberapa besar yang kamu kerjakan, seberapa terkenalnya kamu di kalangan orang-orang, tetaplah berusaha untuk menundukkan hatimu ke bawah. Jangan biarkan dirimu terbang terlalu tinggi untuk akhirnya jatuh di hadapan-Nya.

Oya, ada satu tambahan kisah menarik berkaitan dengan postingan ini:

Ada seorang petani sederhana. Setiap hari, ia pergi ke sawah untuk bercocok tanam. Ya, di dalam hatinya tujuannya ke sawah memang adalah untuk bercocok tanam. Suatu hari, ia menemukan seekor ikan di sawahnya. Petani itu menganggapnya sebagai sebuah rezeki. Ia lantas membawa ikan tersebut pulang dan menggorengnya untuk dijadikan lauk. Sekarang pertanyaannya? Apakah pada hari berikutnya petani tersebut lantas mengubah niatnya menjadi beternak ikan yang lebih menguntungkan dan meninggalkan bercocok tanam? TIDAK. Ia tetap pada niat awalnya, yakni bercocok tanam. Ia menganggap bahwa apa yang didapatkannya kemarin, sebuah ikan untuk lauk, adalah rezeki tambahan yang ia dapatkan dari-Nya karena kasih sayang-Nya.

Semoga pesan implisit dalam kisah tersebut tersampaikan ke kamu semua

One thought on “Amal Saleh & Keikhlasan (2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s