To Be Tough

From Zero to “Hero”

Postingan ini juga diambil dari postingan lama saya dan juga dimasukkan ke web ini

* * *

“Orang-orang besar atau sukses tidak pernah berhenti berusaha hanya karena berhadapan dengan batu-batu rintangan di jalan yang dilaluinya.”

Sebutlah namanya Moti. Kira-kira lebih dari lima belas tahun yang lalu, ia bekerja sebagai “asisten rumah tangga” di keluarga saya. Ketika itu, tentu saja, saya masih kecil sekali. Kisah tentang ia, saya dapatkan dari ibu saya :)

Moti asli Demak, sama seperti alamarhum ayah saya. Ketika pertama bekerja di keluarga saya, usianya masih belasan tahun. Namun karena alasan ekonomi, Moti terpaksa mengadu nasib sebagai “asisten rumah tangga” dan mengubur impiannya bersekolah. Sebuah keputusan yang berat bagi anak seusianya. Ketika teman-temannya bisa bersekolah dan ia hanya bisa menggantungkan citanya.

Kata ibu, Moti anak yang sangat rajin bekerja ketika itu. Almarhum ayah dan ibu sangat menyukainya. Oleh sebab itu, almarhum ayah dan ibu saya sepakat untuk memberikannya “bonus”. Moti kemudian ditawari untuk bersekolah.

Bagai mendapat durian runtuh, tawaran tersebut tentu diamini Moti dengan segenap jiwa dan raganya. Moti benar-benar giat dan rajin bersekolah hingga lulus sekolah menengah atas. Selepas itu, Moti sudah tidak lagi bekerja pada keluarga kami karena sebuah hal yang saya lupa mengapa.

Kisah Moti tentu saja tidak berakhir hingga paragaraf di atas. Beberapa puluh tahun kemudian, saya, adik, dan Ibu berkesempatan bertemu dengan Moti. Ketika itu, kami sekeluarga hendak ziarah ke makam alamarhum ayah di Demak. Karena tidak punya keluarga untuk “numpang bermalam” di Demak, maka ibu pun menghubungi Moti agar bisa menginap di rumahnya. Begitulah, dalam keluarga kami, tidak pernah ada pembedaan antara asisten rumah tangga dan majikan. Kami diajarkan untuk menghargai setiap orang dan memperlakukan mereka sama seperti yang lainnya.

Tak dinyana, sesampainya di Demak, Moti sudah menjadi seseorang yang luar biasa. Kami yang berangkat ke Demak menaiki bis, dijemput oleh keluarga Moti dengan mobil yang cukup lumayan di tempat yang telah disepakati sebelumnya. Di mobil, Moti bercerita banyak hal. Katanya, saat ini, ia telah bekerja sebagai seorang PNS di bagian pertanian di Demak. Ia bercerita, selepasnya dari rumah kami, ia membuka usaha sebagai seorang tukang jahit. Ilmu menjahit ketika itu memang Moti dapatkan dari ibu saya yang pandai menjahit. Dari hasil usaha jahit-menjahit, Moti mengumpulkan uang sedikit demi sedikit sehingga bisa berkuliah S1 pertanian dengan uangnya sendiri.

Di kampus, Moti bertemu dengan pangeran idamannya. Mereka lantas menikah. Bertahun-tahun mereka membina rumah tangga dengan tekun sambil terus berikhtiar untuk kehidupan yang lebih baik. Dan kami memang melihat hasil kerja keras Moti dan suaminya. Saya dan ibu terperanjat dengan rumah yang didirikan oleh Moti. Untuk ukuran “tinggal di perkampungan”, rumah yang dibangun Moti dan keluarga cukup besar. Lantainya sudah dikeramik semua, halamannya luas penuh tanaman beraneka ragam. Kesuksesan Moti tidak hanya terlihat dari materi tapi juga dari anak-anaknya. Yang tertua, baru berhasil masuk perguruan tinggi yang cukup bagus di Semarang dengan jurusan teknik informatika. Yang lebih muda, berhasil berprestasi baik di sekolahnya.

Benar-benar luar biasa. Saya dan ibu benar-benar terkagum-kagum dengan Moti. Yang membuat saya malu adalah bahwa ketika saya hendak kembali ke Jakarta, Moti memberi saya dan adik “uang saku”. Sudah susah payah saya menolak, tapi ia tetap bersikukuh. Katanya, untuk jajan-jajan buku. Saya paham, Moti pasti menganggap saya dan adik juga “anaknya”. Kami berdua memang belum bekerja dan masih bersekolah. Tapi, tidak pernah terbayang bahwa akan begini jadinya. Dulu kami yang biasa memberikan uang tanda terimakasih kepada Moti, tapi kini malah berbalik.

* * *

Bagi saya, kisah di atas luar biasa. Moti benar-benar menjadi saksi hidup saya akan kekuatan sebuah impian. Dari seorang “asisten rumah tangga” biasa hingga menjadi seorang PNS dengan hidup yang berkecukupan. Perjuangan Moti dalam menggapai impian hidupnya benar-benar patut diacungi jempol.

Moti adalah contoh nyata dari orang-orang besar yang tidak pernah berhenti berusaha hanya karena keadaan awalnya yang kurang menguntungkan. Ia tidak pernah mengeluh dan menangisi nasibnya dilahirkan di keluarga yang kekurangan. Justru, ia terus menatap ke depan, tetap bergerak, berusaha dan bekerja sesuai kemampuannya. Ia terus bersikap positif, menciptakan peluang-peluang baginya untuk terus maju, dan menerjang segala rintangan yang ada di hadapannya.

Untuk mempunyai semangat seperti Moti memang sulit, tapi bukan berarti tidak bisa sama sekali. Yang perlu kita tanamkan terus dan terus adalah semangat pantang menyerah dan pikiran positif serta optimis untuk meraih cita.

Seandainya setiap pemuda-pemudi Indonesia adalah orang-orang seperti Moti, saya yakin bahwa masa depan negara ini akan lebih cerah. Karena kita mempunyai agen-agen pewaris dengan semangat yang membara untuk menggapai impiannya juga mudah bangkit dari segala keterpurukkan.

I really wait the next Motis in Indonesia. I do believe that we can, coz Moti can ;)

From Zero to “Hero”

10 thoughts on “From Zero to “Hero”

  1. Pertama … saya suka dengan istilah “asisten rumah tangga”, karena bahasa menunjukkan siapa yang mengucapkannya🙂

    Kedua, cerita ini benar-benar memberikan inspirasi buat yang mau berjuang dan nggak mudah menyerah … kereen *2 jempol*

    ketiga, salut buat lenni dengan tulisan2nya yg seringkali membuat malu diri kita sendiri.

    Ditunggu tulisan inspiratif lainnya ya Len🙂 (rock)

  2. wow… keren yah si Moti itu.. kalau dibandingkan perjuangan saya sebagai manusia bukan apa2nya dibanding beliau, padahal nasib saya di awal hidup sudah jauh lebih baik…

    terima kasih Leni, ini pengingatan yang luar biasa untuk diri saya pribadi, dan lebih memotivasi untuk lebih giat lagi dalam kegiatan apa pun yang sedang saya jalani saat ini..

    Nice share sist’

    1. menurut saya, berbagi memang kebutuhan mendasar bro..
      tapi mungkin.. komunitas bukanlah sesuatu yang mendesak.
      karena berbagi gak hanya bisa lewat komunitas.
      kalau dirasa sulit untuk membentuk komunitas, melalui tulisan-tulisan pun, kita sudah bisa berbagi..😀

  3. suka ih baca org2 yg mau berusaha gini, walo serba kekurangan.. tp terbukti akhirnya skses…🙂 Jadi motivasi, buat kita yg terbiasa enak. tp kyknya usaha utk bisa maju dan jd HERO, kok ga segede mereka2 itu -__-

  4. Masya Allah, inspiring. Ini spt gambaran janji Allah dalam Al Qur’an ya mbak, yg ttg Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah hidup mereka (kurang lebih redaksionalnya begitu dalam bahasa saya). Merinding bacanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s