Cuap Cuap

Rumah Dara(h)

Hari Sabtu lalu, 16 Januari 2009, saya berkesempatan untuk menonton gratis film thriller Indonesia yang (katanya) paling ditunggu-tunggu di tahun ini. Tanpa disangka-sangka, saya mendapatkan kesempatan tersebut karena memenangkan kuis yang diselenggarakan oleh Mo Brothers di Facebook Fan Page Rumah Dara. Karena satu orang pemenang mendapatkan dua tiket gratis, maka saya pun mengajak sepupu saya, Anin, yang memang doyan dengan film bergenre thriller untuk menemani saya agar saya tidak jantungan sendirian di dalam bioskop.

Jujur saja, selama 23 tahun hidup saya, yang namanya menonton film horror dan thriller *apalagi kalau nonton di bioskop* menjadi prioritas paling akhir dari hal-hal yang paling ingin saya lakukan. Bagi saya, film-film sebangsa itu, kurang baik bagi “kesehatan otak dan mental”. Haha.. Saya lebih suka menonton film-film ringan “HEA (Happily Ever After) Ending” dengan alasan hal-hal menggembirakan yang bisa saya dapat dari film tersebut bisa mempengaruhi mood saya entah dalam bekerja atau melakukan segala sesuatu dalam hidup. Namun, untuk film ini berbeda. Mungkin saja, saya sudah terkena jerat hipnotis dari tim marketing Rumah Dara😀 *suer, cara pemasaran mereka hebat banget menurut saya. Membangun citra bahwa film ini memang sangat layak untuk ditonton dan berbeda dari film-film thriller Indonesia yang pernah ada sebelumnya, cukup jitu menyihir keingintahuan saya*

Secara garis besar, Rumah Dara ini bercerita mengenai malam paling mencekam dari 6 orang sahabat, Adjie dan Astrid pasangan suami istri muda yang sedang dikaruniai kebahagiaan dengan akan hadirnya anak pertama dalam kehidupan mereka; Ladya adik Adjie; serta Jimmy, Eko, dan Alam. Adjie, Astrid, Jimmy, Eko, dan Alam melakukan perjalanan ke Bandung untuk dapat bertemu dengan Ladya dalam rangka memperbaiki hubungan kakak-beradik yang sempat tidak akur dan sebagai ajang untuk mengucapkan perpisahan sebelum Adjie beserta Astrid memulai hidup baru di Australia. Di tengah perjalanan kembali ke Jakarta, mereka bertemu dengan seorang gadis cantik bernama Maya yang meminta bantuan untuk diantarkan ke rumahnya karena baru saja mengalami musibah perampokan. Dan, tidak disangka, justru kebaikkan hati mereka dalam mengantarkan Maya menjadi sebuah neraka tersendiri yang menyebabkan satu per satu dari mereka dibunuh secara sadis.

Bagi saya sendiri, film Rumah Dara ini memang film thriller Indonesia yang berbeda dari lainnya. Kata sepupu saya, Anin, yang memang sudah cukup sering menonton film dengan genre seperti ini, Rumah Dara berhasil mendobrak tipikal film-film thriller atau horror Indonesia dengan tidak mengumbar s*ksualitas sebagai daya jualnya. Yang penonton dapati benar-benar suasana tegang yang tidak putus-putusnya ketika melihat satu per satu dari 6 sahabat tersebut diburu oleh Ibu Dara beserta anak-anaknya. Suguhan yang diberikan oleh Mo Brothers ini memang tidak tanggung-tanggung. Sepanjang film, kita bisa melihat betapa memang Rumah Dara ini cocok juga diberi nama Rumah Dara(h) karena darah yang berceceran di mana-mana akibat adanya upaya penjagalan terhadap 6 tokoh buruan.

Saya sendiri cukup mengapresiasi film ini karena idenya yang berbeda dari film Indonesia kebanyakkan. Juga karena totalitas Mo Brothers dalam membuat film ini benar-benar super duper gory and nge-thrill to the max. Tapi, yang saya sayangkan adalah karena film ini pada akhirnya bagi saya hanya full menjual “kesadisan”. Alhasil, seselesainya saya menonton film ini, saya benar-benar pusing bukan kepalang. Pusing karena banyak adegan yang cukup keras untuk seseorang seperti saya yang memang jarang nonton film dengan genre seperti ini. Selain itu, hal lainnya yang saya rasakan adalah kurang banyaknya cerita-cerita pendukung yang dimasukkan ke dalam film. Maksudnya cerita pendukung adalah cerita-cerita “sekilas” mengenai sejarah keluarga Dara. Pada akhirnya, saya hanya mencoba menebak-nebak mengenai hal-hal yang membuat saya penasaran, seperti mengenai tujuan utama keluarga Dara melakukan perburuan manusia, apakah untuk tujuan awet muda ataukah untuk menjual organ-organ yang didapat kepada pihak lainnya, mengenai suami dari Ibu Dara, sekte yang dianutnya, dan lain sebagainya. Mungkin akan lebih asik kalau hal-hal tersebut bisa sedikit kita ketahui walaupun tidak harus digambarkan semuanya secara eksplisit *pasti jadi tidak menarik*.

Atau, jangan-jangan, pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa saya dapatkan jawabannya di sekuel filmnya ya? Hoho, who knows.

But, overall, bagi Anda penggemar film thriller, film ini sangat layak untuk ditonton!

7 thoughts on “Rumah Dara(h)

  1. Wah Lenni udah bahas aja ini film, padahal saya baru mau nonton jumat atau sabtu ini hehehe.

    Penasaran sama ini film yang katanya super sadis ya? Karena Lenni udah rekomendasikan ini layak tonton jadi tambah yakin nih untuk segera menyaksikannya.

    Thanks ya len🙂

  2. Salut sama Danish, meski suara yang-dibuat-buat-seram itu rada2 gimana gitu (karena saya tau dia manis ^_^), tapi aktingnya meyakinkan sekali.

    Setuju kalo ini film cool abis😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s