Bisnis Online

#BelajarBisnis #BelajarDagang #2 Dropship, Boleh Gak Ya?

Skema Dropship, sumber: http://www.ezdropshipper.com/
Skema Dropship, sumber: http://www.ezdropshipper.com/

Dropship, adalah salah satu solusi berjualan tanpa modal yang cukup disukai. Iya, tanpa modal uang dan tanpa modal produk sama sekali alias gak perlu nyetok! Cukup bermodalkan foto produk, deskripsi produk yang menarik, dan “broadcast” pesan atau “iklan gratisan” di social media (kebanyakkan milik pribadi) bahwa kita berjualan produk tersebut. Harga jualnya tentu saja sudah dinaikkan dari harga dasar supaya ada keuntungan yang bisa didapat. Jika ada yang tertarik dengan produk yang kita jual, customer akan menghubungi kita dan membayar kepada kita, baru setelah itu kita menghubungi supplier (penjual/yang punya) produk tersebut dan membayar kepada supplier sesuai pesanan yang masuk. Produk dikirimkan langsung oleh supplier kepada customer kita dengan memakai nama kita sebagai penjualnya. Enak banget kan? Kita gak perlu repot nyetok, gak perlu ada kekhawatiran membeli barang jualan yang tidak laku, gak perlu khawatir perlu sedia modal besar untuk jualan!

Awal-awal berjualan online dulu, saya juga pernah mencoba menjadi seorang dropshipper. Saya dropsip keripik rempah non msg dari istrinya kakak sepupu Selain itu, saya juga pernah dropship busana muslimah, seperti jilbab. Seingat saya, tidak terlalu lama saya menjadi dropshipper (reseller dengan metode dropship). Saya berhenti karena saya tidak tenang. Ya, tidak tenang menghadapi kepastian jumlah stok barang yang saya jual, tidak tenang karena saya tidak memegang langsung barang yang saya jual. Saya semakin tidak tenang karena seingat saya, saya membaca suatu status di mana saya sampai pada kesimpulan bahwa dropship itu tidak boleh. Karena kita menjual barang yang tidak ada di kita, selain itu kita juga memakai nama kita sebagai pengirim, padahal pengirimnya ya supplier kita. Keyakinan itu terus saya bawa sampai saya menjalankan Sobat Ngemil dan Sobat Ngemil berkembang menjadi cukup besar yang akhirnya menarik minat banyak orang untuk menjadi reseller ataupun dropshipper. Yang mengajukan diri sebagai dropshipper dengan berat hati saya tolak-tolakkin. Saya hanya menerima reseller dengan minimal pembelian tertentu. Tapi, kadang di sisi lain, ada juga sudut hati saya yang berbisik “Duh, kasian juga ya. Dengan dropship pasti akan sangat membantu”. Terlebih jualan saya adalah produk yang ongkos kirimnya bisa jadi lebih besar daripada harga produknya. Iya, kebanyakkan snack masuk kategori ringan dari segi berat, tapi makan tempat ketika dipacking, jadilah ketika di pengiriman ongkos kirim dihitung dari VOLUME paket bukan dari berat. Misalkan kalau dari hitungan netto hanya kena berat 500 gram (ongkirnya masuk 1 kg saja), tapi dari hitungan volume bisa kena 2 kg. Kalau dropship, kita bisa memangkas ongkir tersebut, pengiriman berlangsung sekali, langsung dari saya kepada customer dari reseller dropship (dropshipper), tidak perlu transit dulu ke reseller baru dikirim ke customer dari reseller tersebut.

Sejak ikutan mentoring bisnis dari komunitas TDA (Tangan Di Atas) Depok, hal mengenai dropship terus terngiang-ngiang di kepala. Karena saya cukup kaget, ternyata TDA Depok (yang saya kenal pastinya berisi pengusaha-pengusaha yang menganut nilai-nilai islami) kalau tidak salah juga mempunyai semacam marketplace yang menganut sistem dropship bagi mereka yang mendaftar jadi reseller. Loh, berarti selama ini anggapan saya salah dong? Jadi, sebenarnya dropship itu boleh atau gak ya? Saya kembali mempertanyakannya.

Salah saya selama ini, saya memang kebanyakkan memakai asumsi hehe. Tidak mau mengulangi kesalahan yang sama, saya kemudian berusaha mencari ilmunya. Saya langsung bertanya pada mbah Google, dan saya menemukan jawaban dari ustadz Ahmad Sarwat di Rumah Fiqih Indonesia mengenai dropship.

Sebenarnya saya juga menemukan banyak artikel lainnya, tapi yang saya yakini pada akhirnya bahwa dropship itu BOLEH. Secara ringkas, penjelasan dari ustadz Ahmad Sarwat begini “Dalam hukum jual-beli, tidak ada syarat yang melarang seseorang menjual barang milik orang lain. Juga tidak ada keharusan seseorang harus punya barang terlebih dahulu, baru boleh dia jual. Jadi prinsipnya, seorang boleh menjual barang milik orang lain, asalkan seizin dari yang punya. Dan seseorang boleh menjual ‘spek’ yang barangnya belum dimilikinya.”

Lalu bagaimana dengan hadits berikut ini yang melarang kita menjual sesuatu yang tidak ada pada diri kita? “Janganlah kamu menjual barang yang tidak kamu miliki (HR. Tirmizy, Ahmad, An-Nasai, Ibnu Majah, Abu Daud) ”. Kalau kata ustadz Ahmad Sarwat, maksud hadits tersebut adalah larangan menjual barang yang memang dia tidak bisa mengadakannya atau menghadirkannya. Misalnya, jual ikan tertentu yang masih ada di tengah lautan lepas. Tentu tidak sah, karena tidak ada kepastian bisa didapat atau tidak. Atau jual mobil yang bisa terbang dengan tenaga surya. Untuk saat ini masih mustahil sehingga hukumnya haram.

Lebih jelasnya langsung baca di sini ya: http://www.rumahfiqih.com/x.php?id=1357202999&=hukum-menjual-dropshipping-apakah-halal.htm Selain dari artikel tersebut, juga bisa baca artikel berikut ini untuk jawaban yang lebih jelas: http://mediaumat.com/ustadz-menjawab/4468-102-hukum-menjadi-dropshipper-.html

Akhir kata, kalau ada pertanyaan yang masih mengganjal, ada baiknya langsung ditanyakan kepada ustadz atau ahli agama karena di artikel ini sifatnya saya hanya sharing apa yang pada akhirnya saya yakini. Saya pun sekarang jadi mantap, untuk menerima dropshipper yang berminat menjual barang-barang Sobat Ngemil hehe (cek instagram @sobatngemil). Ayo kita saling bantu membantu, yang berminat jadi dropshipper langsung hubungi saya yaaaaaa :p (hiyaaa, jadi promosi juga deh).

5 thoughts on “#BelajarBisnis #BelajarDagang #2 Dropship, Boleh Gak Ya?

  1. Saya sempat mau nyoba jualan pakai sistem dropship, selain nggak butuh banyak modal juga untung lumayan. Tapi setelahnya saya ragu karena koq jadi kayak jual kucing dalan karung, kita nggak tahu barang yang dikirim supplier seperti apa dan barang yang diterima customer seperti apa.. Jadi, daripada saya ragu, jadi nggak jadi aja deh nge-dropship-nya

    1. ya sih mba, kekurangan dropship itu salah satunya bikin hati gak tenang. Kalo saya sendiri juga sekarang gak mau jadi dropshipper krn alhamdulillah modalnya juga sudah ada untuk nyetok barang, tapi saya sih membuka peluang dropship untuk yg mau jadi reseller saya hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s