Catatan Hati · Parenting

Mengenalkan Emosi pada Hani

Salah satu poin dalam rapor Hani yang mendapatkan nilai “MB” alias Mulai Berkembang adalah tentang “Menunggu Giliran” baik giliran cuci tangan, giliran mengambil makanan, dan lainnya. Nilai MB ini satu tingkat di bawah B atau Berkembang. MB berarti poin tersebut perlu mendapatkan “pelatihan” lagi supaya bisa menjadi sebuah hal yang menetap dan menjadi kebiasaan. Saya sendiri menyadari bahwa dalam hal ini, Hani memang masih “kurang”. Hani cenderung tidak sabar dalam menunggu giliran, bukan berarti pada akhirnya dia suka menyelak, ya. Dia mau menunggu dalam giliran, tapiiiiii.. kadang-kadang disertai dengan “ketidaksabaran” yang terlihat dari nafas yang memburu atau disertai dengan celotehan “Aduuuh, lama banget sih” atau “Duuuh, aku maunya sekarang”. Walau sudah diberi pengertian untuk sabar menunggu, kadang tidak mempan. Pernah juga suatu hari, ketika sedang menunggu temannya trial test di tempat bimbingan belajar, Hani pernah tiba-tiba menangis dan mengamuk. Ditanya kenapa menangis tapi tidak menjawab, diajak pulang tapi tidak mau dan malah berteriak. Setelah agak lama baru ketahuan bahwa ternyata Hani tidak sabar menunggu temannya selesai trial test. Hani ingin segera bermain dengan temannya.

Kalau dirunut-runut lagi, Hani ini bisa jadi memang punya “sifat bawaan” yang demikian. Menurun dari bundanya yang sifatnya “keras”. Kalau diingat, dulu pas hamil Hani pun, saya cukup emosional. Perasaan ibu hamil sangat memengaruhi anak. Setiap perubahan emosi ibu hamil akan membuat perubahan hormonal yang akan diterima bayi lewat plasenta, begitu kata Dr. Ali Sungkar, SpOG, dari Brawijaya Women & Children Hospital. Pengaruh ini bisa terlihat ketika masa perkembangan si anak, misalkan jika si ibu emosional ketika hamil, stress, atau depresi, maka anaknya bisa jadi memiliki sifat pemarah. Nah, ini juga jadi PR saya sekarang, bagaimana bisa menjaga emosi tetap positif ketika sedang hamil anak kedua. Tidak mudah marah, tidak mudah menangis, dan emosi negatif lainnya. Kalaupun marah atau menangis cukup sewajarnya saja, tidak perlu sampai “kepikiran”.

Saya bukan seorang psikolog, tapi yang saya yakini, bahwa “ketidaksabaran” ini bisa diatasi dengan mengetahui cara mengelola emosi. Dan, emosi bisa dikelola, jika kita tahu apa saja emosi yang sedang kita rasakan. Mengenal emosi ini perlu diajarkan sejak dini, saya sih memandangnya begitu. Oleh karena itu, saya mencoba mengenalkan berbagai macam emosi juga kepada Hani. Tujuannya, supaya Hani tau, dia sedang merasakan emosi apa ketika sedang berhadapan dengan situasi tertentu. Jadi, pas ditanya kenapa menangis, dia bisa menjawab. Ketika dia memberikan jawaban maka saya dan dia bisa bersama mencari solusi yang terbaik untuk mengatasi emosi negatifnya.

Karakter Inside Out yang saya cetak menjadi kartu. Sumber: http://mcad.edu/features/look-chris-sasaki-pixars-latest-film-inside-out
Karakter Inside Out yang saya cetak menjadi kartu. Sumber: http://mcad.edu/features/look-chris-sasaki-pixars-latest-film-inside-out

Salah satu cara yang saya gunakan untuk mengenalkan berbagai bentuk emosi kepada Hani adalah dengan menggunakan kartu. Saya mencetak beberapa kartu emosi. Ada dua versi yang saya cetak, pertama adalah kartu bergambarkan karakter-karakter di film Inside Out. Saya memilihnya karena Hani sudah pernah menonton film tersebut di bioskop dan cukup familiar dengan beberapa karakternya. Ada Joy (saya menyebutnya si Senang), Angry (si Marah), Fear (si Takut), Sadness (si Sedih), dan Disgust (si Jijik). Versi kedua yang saya cetak, saya dapatkan dari sebuah web (maaf saya lupa link-nya). Kartu emosinya lebih beragam, ada gambar Happy, Angry, Afraid, Surprised, Excited, Silly, Sad, dan Worried. Bisa diunduh di sini.

Setelah mencetak kartu-kartu tersebut, saya tunjukkan kepada Hani. Eh ternyata dia sangat tertarik, sampai-sampai ikutan membantu menggunting kartunya. Setelah selesai, lalu saya tunjukkan pada Hani satu per satu. Dimulai dari kartu karakter Inside Out. Saya tanyakan pada Hani, “Hani, kira-kira ini orangnya lagi kenapa ya? Mukanya menunjukkan dia lagi kenapa ya?”. Ternyata, Hani sudah bisa mengidentifikasi emosi-emosi yang berbeda.

Dia bisa menjawabnya. “Lagi marah!”, ketika dia ditunjukkan kartu Angry.

Saya lalu mengeksplorasi dengan mengajukan pertanyaan lanjutan, “Hani pernah marah? Hani biasanya kalo marah karena apa?”.

Awalnya dia menjawab, “Gak. Aku kan anak Ketum (Tetum harusnya). Aku gak marah-marah!”.

Bunda menjawab lagi, “Hmm, kalau Hani punya mainan terus mainannya diambil sama anak lain. Marah gak?”.

“Umm iya. Tapi sekarang udah gak. Udah mau berbagi”, kata Hani.

“Wah bagus kalau begitu. Tapi kalau misalkan mainan Hani diambil orang lain sebenarnya Hani berhak marah. Marah itu wajar gapapa. Cuman, tidak boleh memukul atau merebut dengan kasar ya jika ingin mainannya kembali. Kalau Hani merasa marah, coba tarik nafas dulu, terus buang nafas. Hah huh, hah huh. Kalau sudah tenang, tapi Hani gak berhasil meminta mainannya, coba Hani minta tolong orang tuanya atau tante atau om, minta tolong supaya mainan Hani dikembalikan. Okay, Hani?”, saya mencoba mengatakan kepadanya bahwa emosi negatif yang dirasakan itu adalah sebuah kewajaran. Namun, saya coba memberi pandangan mengenai salah satu cara untuk mengatasinya.

Ya, semoga saja dari hal sederhana seperti bisa mengidentifikasi emosi sendiri, mengetahui perasaan yang ada dalam diri, Hani bisa diajarkan untuk mengelola emosinya. Perjalanannya cukup panjang dan butuh konsistensi dalam pelaksanaannya, pastinya. Tapi, harus bisa😀

12 thoughts on “Mengenalkan Emosi pada Hani

    1. iya mba, benar, kadang anak suka marah, nangis tapi pas ditanya gak jawab apa-apa. kitanya juga bingung ya kadang ini anak kenapa, akhirnya menebak2. kalau bisa diajak mengkomunikasikan perasaannya, pastinya lebih enak di orang tua dan anak🙂

  1. Idenya bagus banget mbaak…. memanfaatkan film inside out untuk mengenalkan emosi.😀
    Aku juga sudah nonton film ini. Keren…😀

    Aku pernah baca tentang mengatasi emosi anak kalau sedang marah. Sebagai orang tua kita nggak harus buat menghentikan marahnya anak. Kita diamkan dulu sampai dia tenang, baru kemudian kita tanyakan baik-baik. Jadi menurutku caranya mbak leni ini bagus banget, ngajak komunikasi sama buah hatinya.😀

  2. Suka cara belajarnya mba, nanti kalo killua udah lahir mau dicoba ah cara mengajarkan emosi kayak gini😀 Tapi kayaknya nanti filmnya udah ganti kali yah ehehe bukan inside out lagi😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s