Bisnis Online · Catatan Hati · Cuap Cuap

JNE, Oh, JNE…

DRRRRR. Siang kemarin hape saya bergetar. Saya lihat ada panggilan masuk dari nomor tidak dikenal. Saya segera mengangkatnya.

“Selamat siang. Apa benar dengan Toko Sobat Ngemil?”, tanya suara laki-laki yang sangat ramah di seberang sana.

“Benar. Ada yang bisa dibantu?”, tanya saya penasaran.

“Iya. Begini bu, saya dari JNE Depok, mohon maaf mau konfirmasi pengiriman atas nama XXXX”. Ah, great! Batin saya. Telepon yang sangat tidak saya harapkan. Karena pengalaman-pengalaman sebelumnya, jika ada telepon dari JNE, pastilah membawa kabar tidak mengenakkan.

“Oh ya, itu pengiriman tanggal berapa ya?”, saya pastinya tidak bisa mengingat satu per satu nama customer saya. Jadi, saya mencoba mengorek informasinya lebih detail supaya bisa mencocokkan dengan catatan transaksi di buku.

“Tanggal 14 Desember, bu”, jawabnya.

“Oke, kenapa ya pak? Rusak kah? Digigit tikus?”, tebak saya.

“Iya bu. Mohon maaf ini kami baru dapat konfirmasi dari JNE pusat bahwa paket ibu rusak karena digigit tikus. Ibu bisa mengajukan klaim kepada kami melalui JNE agen untuk penggantian ganti rugi”, terangnya dengan nada yang masih tetap ramah.

“Duh, kok bisa ya. Saya udah sering loh begini. Terus klaim saya yang lalu-lalu udah cair belum dananya?”. Saya menanyakan kembali hal yang sudah tau akan dijawab seperti apa. Saya sendiri sih rasa-rasanya udah gak bisa marah lagi. Udah cukup sering saya mengalaminya. Padahal ya, paketnya sudah saya pakaikan kardus yang cukup tebal dan dilapisi dengan lakban disekeliling kardus. Saya kadang bertanya, apa hanya paket saya saja yang berisi makanan yang mengalami nasib demikian?

Telepon pun ditutup dengan kesepakatan sesuai prosedur, saya mengisi Form Pengajuan Klaim yang saya dapatkan dari JNE AGEN tempat saya mengirimkan barang. Saya juga menyertakan fotokopi KTP, nota pembelian, dan resi asli dari paket yang hendak diklaim. Cukup sederhana. Setelah dokumen lengkap semua, saya tinggal menyerahkannya kepada JNE Agen dan JNE Agen-lah yang akan menyampaikannya kepada JNE Pusat. Selanjutnya, saya tinggal sabar-sabar menunggu sampai ditelpon oleh pihak JNE Pusat yang mengabarkan bahwa data klaim sudah diterima. Tapi, sesudah itu saya masih harus menunggu lagi maksimal 14 hari kerja sampai dananya masuk ke rekening saya. Dana yang akan dicairkan sebesar nilai produk yang dikirimkan ditambah dengan ongkos kirimnya.

Di postingan ini, sebenarnya yang ingin saya soroti adalah perbaikan dari pihak JNE. Kenapa kejadian seperti ini (paket digigit tikus, rusak, bocor, nyasar, hilang, dll) sering sekali terjadi? Mungkin hal yang mirip juga, lumrah terjadi dengan jasa pengiriman lain.

Hanya saja rasanya saya malas menyerah terhadap kata lumrah. Gregetan sekali rasanya, ketika dari pihak saya selaku pengirim sudah berusaha mengepak barang dengan sangat rapi, menggunakan kardus, melapisinya dengan lakban tebal supaya gak ada celah bagi tikus untuk mendodol paket saya; tapi tetap saja “kecolongan”, ada saja kejadian paket tidak diterima dengan mulus. Saya cukup terganggu dengan hal ini, karena salah satu imbasnya adalah ke nama baik toko yang bersangkutan. Saya pernah loh dimaki penipu karena paket yang diterima belum sampai, padahal ya saya sudah mengirimkan barang tersebut dan menunjukkan resinya kepada pembeli. Sebagai pembeli yang cerdas seharusnya dia bisa melakukan ricek ke website JNE untuk melakukan tracking bahwa paket memang sudah dikirim. Sayang sekali pembeli tersebut hanya berpatokan pada prinsip “barang belum diterima, maka penjual yang salah. Resi sudah dikasih, tapi pasti resinya palsu”. Ketika saya menghubungi pihak JNE ternyata paket tersebut rusak digigit tikus makanya paket tersebut tidak kunjung dikirim kepada pembeli. Dan yang saya herankan lagi, membutuhkan waktu yang cukup lama bagi JNE untuk melaporkan kepada pengirim bahwa ada masalah pada paketnya. Bisa makan waktu sekitar 7-14 hari biasanya, untuk mendapatkan laporan dari JNE jika paketnya bermasalah, entah hilang, rusak, digigit tikus, dll. Entahlah, positive thinking-nya sih karena paket yang mereka handle memang sangatlah banyak.

Entah kondisi di gudang JNE mana. Sumber: http://img.duniaku.net/wp-content/uploads/2014/11/jne2.jpg
Entah kondisi di gudang JNE mana. Sumber: http://img.duniaku.net/wp-content/uploads/2014/11/jne2.jpg

Saya memang belum pernah melihat secara langsung “jeroan”nya JNE, apa saja yang terjadi di dalam sana. Saya hanya pernah melihat dari foto yang beredar mengenai gudang JNE, mengenai betapa tumpuk menumpuknya paket yang ada di gudang. Paket-paket berserakan tidak beraturan. Terakhir yang paling gres, saya melihat sebuah video mengenai bagaimana karyawan JNE memperlakukan paket ketika sedang mengelompokkan paket-paket tersebut berdasarkan daerah pengiriman. Mereka melemparnya dengan santai. Sampai-sampai pihak JNE mengeluarkan statement resminya di Facebook Page mereka, meminta maaf atas kejadian yang tidak sesuai prosedur dan akan menindak karyawan yang ada di video tersebut.

Saya rasa, hal tersebut juga harus dibarengi perbaikan menyeluruh dari JNE-nya sendiri. Mungkin dari SOP pemisahan barang, misalkan setiap petugas harus meletakkan barang (bukan melempar barang) yang sudah dipisahkan di keranjang beroda atau trolley tertentu sehingga ketika ingin memindahkannya ke truk tinggal menggeser trolley tersebut? Juga SOP untuk menjaga kebersihan gudang dari hewan-hewan seperti tikus, kecoa, dll? Semoga JNE gak beternak hewan-hewan tersebut di gudangnya. Atau mungkin dari teknologi yang digunakan untuk mengelompokkan barang? Jika paket sebuanyaaaak itu, ratusan ribu mungkin setiap harinya, masih dihandle atau ditangani manual (oleh manusia), memisah-misahkannya hanya dengan tangan yang kalau sudah capek pastinya akan mencari jalan pintas (salah satunya dengan melempar paket), ya tinggal tunggu saja komplen yang masuk setiap hari jadi lebih menggunung. Saya cuman bisa berandai-andai, semoga saja suatu saat nanti, ada teknologi atau ide out of the box yang bisa membantu menyelesaikan permasalahan ini. Membantu bagaimana me-manage barang-barang yang ada dalam gudang juga kondisi gudang itu sendiri. Daku mah apa atuh, cuman bisa menyampaikan aspirasi ini. Please, JNE, pikirkan perubahan secara menyeluruh. Gak hanya memangkas kesalahan yang terlihat di depan mata dan bisa jadi yang dipangkas bukanlah akar dari permasalahan. Mungkin kalau berhasil, JNE bisa jadi pioneer dari jasa pengiriman paket yang paling bisa memuaskan konsumen.

~ Hanya sebuah curahan hati dari salah satu pengguna setia JNE.

30 thoughts on “JNE, Oh, JNE…

  1. Saya sempat mengalami kejadian paketan nyasar, Mbak. Padahal alamat sudah jelas. Tapi sempat menanyakan pihak penjual kenapa bisa sampai salah kasih alamat, ternyata yang salah input petugas JNE nya. Barang yang harusnya datang 3 hari jadi seminggu lebih. Tapi sebagai pembeli yang “smart” *cieee* saya nggak sampai obrak-obrak penjualnya, Mbak. Soalnya itu memang murni kesalahan karyawan JNE. Be smart buyer pokoknya, Mah. ^^

    1. Ih kecup deh kalo ada smart buyer kayak mbak haha.. iya saya juga pernah ngalamin itu tuh, paket nyasar karena ada kesalahan input di alamatnya.

      Makanya sekarang, saya suka minta resi manual, resi yang bisa ditulis tangan sendiri sama kita si pengirim, baru pas barang dipickup sama JNE atau barang kita taruh di kantor JNE, resi manual yang sudah kita tulis dibawa juga. Selain pakai resi manual, saya juga pakai resi e-connote sih yang diketik komputer. Saya biasanya kirimkan email berisi data nama, alamat, no hape paket yang akan saya kirim ke JNE agen, Nanti JNE agen ngeprint e-connote dari data yang sudah saya kasih, sorenya pas pickup ke toko saya baru resi2nya dibawa. Dua cara tadi lumayan mengurangi kesalahan akibat penulisan alamat.

    1. tajam banget.. herannya saya pernah kirim coklat juga dijajal sama si tikus. Padahal coklat kayaknya gak ngeluarin aroma2 nyengat deh ya. Paket sy yang dijajal tikus biasanya yang isinya snack2 asin ber-msg ups, seperti mie anak mas

  2. Duhh gimana yaa.. Mau ganti ekspedisi lain, tapi JNE emang yang paling dekat, mudah cek harga, dan gampang cek resinya. Beda banget sama ekspedisi2 lainnya. Makanya JNE jadi andalan2 OLShop. Semoga kejadian ini terakhir kali ya Mba..😦

    1. Aamiin, saya sih berharapnya juga begitu mba. Tapi faktanya, jumlah kerusakan barang yang saya alami meningkat setiap tahunnya. Dulu awal2 saya jualan online, sekitar 3 tahun-an lalu, saya memaket cemilan saya hanya dengan plastik hitam dan lakban. Beuh, kalo dipikir2 ngirit banget dan super berani. Padahal pesanannya seperti snack Karuhun yang saya kirim sampai luar Jawa juga. Tapi alhamdulillah dulu baik2 saja. Sekarang, udah gak berani lg begitu. Jaminan remuk kalo hanya pake plastik dan lakban. Sekarang semua paket udah saya kardusin tp masih aja rusak, mungkin saya apes😦 Tapi saya sih sampai sekarang tetap pakai JNE, karena gak ada pilihan lain, kecuali kalo reseller biasanya pake ekspedisi lebih murah.

    1. punya saya alhamdulillah banyak juga yang sampai dengan selamat, tapi gak jarang juga kena gigitan tikus atau ada masalah. resiko memang. tapi, kalo utk pedagang kayak saya masalah sedikit saja udah lumayan ngefek, pertama dari segi nama baik online shop-nya, kedua proses klaimnya butuh waktu yang lumayan juga, bisa dibilang cukup rugi dari segi waktu dan materiil, karena pastinya saya jg harus kirim barang lagi yang baru ke pembeli, sedangkan pencairan dana klaim tidak cukup cepat. jadi sesekali pengen curcol aja mba, semoga aja ke depannya JNE dan juga jasa pengiriman lain bisa lebih baik🙂

  3. Saya pernah kirim laptop dari Jogja ke Jkt, biasanya maksimal 3 hari udah nyampe. Eh pas itu sebulanan ngawang2 karena kurir/pegawai pusat (bukan petugas di agen) salah mengelompokkan. Paket saya dimasukkin ke golongan luar Jawa, kalo gak salah daerah Bitung apa Belitung, lupa.

    Kalo buat dagangan saya gak pake JNE, soalnya ongkir JNE sadisss dan sering banget naik, bisa lebih mahal dari harga barang yang saya jual. xD

    1. wih, serem, kirimannya laptop lagi.. itulah mba, lebih sering terjadi karena human error. maklum sih paket yang dihandle banyak sekali. tapi mungkin saja perlu ada pendekatan lain untuk menyelesaikan masalah2 yang ada seperti penggunaan teknologi di JNE, entah gimana.. itu yang sebenarnya mau saya angkat di postingan kali ini.

  4. Aku sebetulnya kapok pake JNE. Beberapa kali dapat paket udah koyak. Sayangnya olshop banyak yg pakai JNE. Dan sekarang aku ngirim hadiah pake JNE (dropship). Pigura kaca, semoga diperlakukan dengan cantik.

    1. Aamiin, semoga sampai dengan selamat mba! Walau saya suka dikecewakan sama JNE, saya termasuk yang masih saja memakainya sampai sekarang, karena ya untuk saya JNE yg paling mudah dalam hal pengecekkan ongkir, resi, komplen. Makanya sebagai pemakai setia JNE, saya mau memberi sedikit kritik dan masukkan juga semoga pelayanan bisa lebih baik

  5. Aku sebetulnya kapok pake JNE. Beberapa kali dapat paket udah koyak. Sayangnya olshop banyak yg pakai JNE. Dan sekarang aku ngirim hadiah pake JNE (dropship). Pigura kaca, semoga diperlakukan dengan cantik ya.

  6. omg… ngeliat bntuk gudangnya bgitu aku jd sereeem mba @_@ … Selama ini kalo kirim paket untungnya slalu selamat sampai tujuan sih.. blm prnh digigit tikus ato rusak… tp ga nyangka kalo cara mereka handle brg segitu parahnya…

    1. Itu foto entah gudang di JNE kota mana.. saya rasa gak semuanya demikian. Paket saya juga alhamdulillah banyak yang selamat tapi kadang ada juga yang gak selamat hehe. memang udah resiko, tapi pengen kasih kritik dan masukkan juga semoga pelayanan mereka bisa lebih baik

  7. ya ampun mak . ga lagi-lagi deh ngirim pake jne . saya juga pernah begitu. paketan saya digigitin curut. haduh saya mah cuma bisa geleng-geleng sambil elus dada aja.

    1. kalo saya masih aja pake jne, selain ada ekspedisi lainnya xD Sebenarnya paket saya juga alhamdulillah banyak yang selamat tapi kadang ada juga yang gak selamat hehe. memang udah resiko, tapi pengen kasih kritik dan masukkan juga semoga pelayanan mereka bisa lebih baik

  8. Temen saya nunggu jas dari 1 tahun lalu ngga sampe – sampe mba,..
    Emang keterlaluan sih ya, perusahaan beras ya kok piara tikus bzzzzz…
    Harusnya ada pengelompokan dari wilayah juga jenis barang juga, jadi bisa lebih rapih. Makanan dipastikan ditaro di bagian khusus biar ga dilewatin apalagi dimakan tikus.

    Kayaknya kita harus kirim kapur barus untuk JNE hahhahahaa..

  9. Pernah ngalamin isi paket hilang, yang diterima oleh buyer hanya amplopnya saja, sudah mengajukan klaim ke JNE, sudah 3 bulan, belum ada tuh penggantian ganti rugi..
    Tapi kalau berdasarkan pengalaman, JNE masih lebih baik dibanding agen pengiriman lain dalam cek ongkir, penelusuran resi dll..
    Cuma kudu kuatin hati kalau nerima komplenan buyer yg ga sabar nunggu paket dateng, bukannya ngecek resi sendiri, malah ngira paketnya belum dikirim, huhuhuhu…

  10. saya pernah ni mbak, pas ngirim paket ultah….dari surabaya ke bandung, sampe yg ultah sdh lewat sebulan paketannya belum dateng jg. alhasil balik ke kota asal pdhl kalo kirimnya by pos & paketan tdk sampai bakal kembali ke alamat pengirim] bukan ke agen pusatnya, duh.
    sdh gitu koordinasi dari pusat ke cabang kurang, jatuhnya di lempar2 di suruh ke pusat atau ke cabang nih?

    sejak itu saya ogah pake JNE…mending pake POS INDONESIA, kualitasnya makin baik sekarang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s