Belajar dari Buku · Catatan Hati · Cuap Cuap · Parenting

Setelah Membaca Buku “5 Guru Kecilku”

Salah satu tujuan saya membaca buku non fiksi tentu saja untuk menambah pemahaman atau insight baru akan suatu hal. Oleh karena itu, saya sudah menyiapkan pikiran dan hati saya untuk menerima hal-hal baru yang akan disampaikan dalam buku tersebut. Gak jarang, sebuah spidol berwarna ataupun bolpen pun sudah disiapkan untuk menggaris bawahi hal-hal yang saya anggap penting. Tapi, kalau buku yang saya baca adalah buku pinjaman, saya siapkan kamera hape saja untuk meng-capture halaman yang saya anggap penting. Bisa diamuk nanti kalo buku pinjaman itu saya oret-oret hahaha.

Buku "5 Guru Kecilku" oleh Teh Kiki Barkiah
Buku “5 Guru Kecilku” oleh Teh Kiki Barkiah

Buku pilihan kali ini bertemakan parenting, berjudul “5 Guru Kecilku” bagian 1, Kumpulan Kisah Berhikmah Seputar Pengasuhan Anak. Karya teh Kiki Barkiah, seorang ibu homeschooler dari 5 orang anak yang tulisannya sudah banyak bertebaran di media sosial, seperti Facebook. Beliau tidak berlatar belakang psikologi, justru beliau adalah seorang sarjana teknik. Ya agak-agak mirip sama saya, yang lulusan ilmu komputer dari sebuah PTN. Karena itulah, saya jadi penasaran dan ingin mengetahui bagaimana gaya parenting yang diterapkan dari teh Kiki Barkiah secara lebih mendalam.

Buku ini saya beli dari seorang kenalan baru di Facebook. Lucky me, bisa mendapatkannya, karena kebetulan dia hanya punya lebihan 1 stok buku saja. Sebelumnya, saya juga sudah berusaha mencarinya di Gramedia, tapi tidak menemukannya. Kalau misalkan ada juga yang ingin membelinya, coba saja beli via online. Ketikkan keyword “5 Guru Kecilku Kiki Barkiah” di Google, biasanya akan muncul beberapa situs yang masih memiliki stok dan menjual buku tersebut.

Ide atau inspirasi yang tercetus setelah membaca buku "5 Guru Kecilku"
Ide atau inspirasi yang tercetus setelah membaca buku “5 Guru Kecilku” saya tuliskan dalam notes

Kembali ke bahasan, setelah membaca buku ini, banyak inspirasi yang tiba-tiba tercetus. Dan banyak hal yang tiba-tiba terpikirkan. Bisa terlihat dari begitu banyaknya saya menggaris bawahi setiap halaman dari buku tersebut hahaha. Udah macam baca buku pelajaran saja. Walau ada terselip beberapa kesedihan (yang bersifat teknis), seperti ada 2 lembar buku yang tidak tercetak. Iya, kosong aja gitu lembarannya. Padahal lagi seru-seru baca, eh tiba-tiba dikasih halaman kosong, semoga ada orang penerbit yang membacanya nih hihi :p

Anyway, tulisan ini sifatnya bukan review buku ya. Hanya sebuah rangkuman hikmah dan pelajaran yang bisa saya petik dari buku “5 Guru Kecilku”. Beberapa hal yang akan saya ingat dan akan dijadikan pegangan dalam perjalanan parenting saya (juga suami), yang saya dapat dari buku “5 Guru Kecilku”, saya rangkum dalam poin-poin di bawah ini. Hikmah yang dipetik bisa jadi berbeda antar tiap orang yang pernah membacanya. Saya hanya ingin mencatatkannya di blog supaya jadi pengingat juga:

  • Bahwa tidak ada yang lebih sempurna dari Rasulullah SAW dalam pengasuhan anak, maka berilah ruang dalam hati kita untuk menerima bahwa kita bisa SALAH. Maka, tidak perlu kita mengatakan, “kami merasa gagal menjadi orangtua”. Namun, katakanlah “bersama Allah kami bisa lebih baik lagi”. Kalimat yang sangat menyejukkan dari teh Kiki Barkiah, sekaligus membangkitkan rasa ingin tahu saya tentang gaya parenting Rasulullah. Hal ini menyadarkan lagi buat kita para orangtua yang terkadang sangat ingin menjadi “sempurna” sampai-sampai bisa jadi stress sendiri, bahwa ada kalanya keputusan yang kita ambil, atau sikap kita salah/tidak tepat. Tidak perlu lah menyesal sampai berlarut-larut, cukup jadikan pelajaran, move on, kemudian berusaha lebih baik lagi.
  • Penting bagi kita untuk dapat menerima bahwa misbehavior adalah sesuatu yang normal terjadi dalam proses perkembangan anak. Jadi, buat saya sendiri, ini mengingatkan bahwa memang tidak ada yang namanya “anak nakal”, terlebih ketika anak tersebut belum memiliki pemahaman akan apa yang mereka perbuat. Masa anak-anak, terutama balita, adalah masa eksplorasi, kebanyakkan yang diperbuat adalah untuk memuaskan keingintahuannya terhadap sesuatu. Saya pun selalu menghindari kata-kata “dasar nakal kamu” atau sejenisnya ketika sedang sangat kesal menghadapi ulah anak yang di mata kita bisa jadi tidak tepat. Cukup memberi tahunya dengan halus, memberi tahunya harapan kita mengenai apa yang sebaiknya dilakukan.
  • Menjadikan diskusi sebagai budaya keluarga. Di buku ini, kental sekali saya melihat, budaya diskusi dalam keluarga teh Kiki Barkiah. Saya cukup terperanjat bagaimana teh Kiki bisa dengan lugasnya berdiskusi tentang hal-hal sensitif dengan anak-anaknya, seperti pergaulan dengan lawan jenis juga pembicaraan seputar seksualitas. Padahal usia anaknya yang diajak diskusi tentang hal tersebut, ketika itu baru 10 tahun (Ali). Muatan tentang pendidikan seks-pun pernah juga dimulai teh Kiki Barkiah dengan anaknya yang masih berumur 6 tahun dan 4 tahun, melalui buku cerita. Hal ini sangat membuka mata saya dan membuat saya menuliskan beberapa “resolusi” saya dalam hal parenting. Saya ingin juga membangun sebuah keluarga yang kental akan diskusi. Di mana keterbukaan menjadi hal penting dalam keseharian. Saya dan suami ingin, anak-anak kami nantinya, mempertanyakan banyak hal kepada kami, orangtuanya terlebih dahulu, ketimbang mengajukan pertanyaannya pertama kali kepada orang-orang di luar sana. Insya Allah, hal ini sudah dimulai dari sekarang, di mana saya dan suami sering mengajak Hani berbicara, bercerita, membacakannya buku-buku, menceritakan kepadanya dunia melalui peta, mengajaknya jalan-jalan ke berbagai tempat, juga memicu kreatifitas dan rasa ingin tahu Hani dengan pertanyaan-pertanyaan yang kami ajukan.
  • Mengajarkan anak untuk mencintai “belajar” dan menggigit konsep ilmu. Saya ingat sekali, dulu ketika SD, saya adalah “anak hafalan”. Belajar apa-apa saja mengandalkan hafalan. Saya juga ingat, pasti ada suatu sesi menyetor hafalan perkalian ke (almarhum) ayah saya. Ketika saya tidak bisa, pasti saya akan pucat pasi dan terkencing-kencing. Makanya, ketika di kuliah, saya menghadapi sedikit masalah. Logika saya tidak terasah untuk bisa menyelesaikan kuliah sebangsa Matematika Diskrit atau Pemrograman. Nilai-nilai saya tidak cukup baik semasa kuliah dan cukup membuat saya “down” beberapa saat. Untunglah, di beberapa semester akhir, saya cukup menyadari bahwa harus ada yang diubah dari cara belajar saya. Saya kemudian berusaha sekuat tenaga menyukai apa yang saya pelajari, memperhatikan dosen dengan sangat baik ketika di kelas, dan mencoba memahami konsep ilmunya. Alhamdulillah, ketika lulus, nilai saya cukup selamat. IPK masih di atas 3 xD. Tapi, saya akui, ilmu yang saya dapatkan ketika kuliah, saat ini lebih banyak yang menguap dibandingkan yang mengendap. Semoga saja, hal semacam itu tidak berlaku di Hani. Saya dan suami ingin Hani bisa memilih satu hal sendiri yang ia sukai dan akan ia jadikan keahliannya nanti, sehingga ia mencari ilmunya dengan penuh ikhlas juga cinta.
  • “Innallaha maashaabirin”, yang artinya “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar”. Adalah sebuah prinsip yang dipegang teh Kiki Barkiah selama mendampingi tumbuh kembang anak-anaknya. Dan saya rasa, prinsip dasar yang juga harus dipegang oleh saya (juga oleh semua orang tua). S-A-B-A-R. Sebuah kata pendek yang rasanya sulit sekali diterapkan kalau sedang diuji oleh ulah anak-anak. Percayalah, semua teori parenting yang pernah dibaca dan berusaha diterapkan akan LENYAP kalau kita tidak berhasil mengendalikan emosi dan ber-SABAR.
  • Repot urusan anak di usia dini itu pasti, repot urusan anak di usia dewasa itu pasti ada yang salah, repot urusan anak di negeri akhirat itu pasti merugi. Jadi, sekali lagi bersabarlah wahai para orangtua (termasuk diri sendiri hahaha), masa kecil anak itu singkat. Jangan lelah mendidik dan mengarahkan mereka di usia dini-nya. Usia dini adalah usia keemasan, masa di mana seharusnya campur tanganmu lebih banyak untuk mereka. Sehingga ketika mereka sudah dewasa, mereka menjadi insan yang baik, mandiri, dan bisa membantu mendoakan orang tuanya.

Panjang banget yaa tulisannya haha. Maaf, jangan bosen ya :p Kayaknya segitu aja deh, kalau dijembrengin semua bakalan banyak sih karena bukunya menurut saya isinya “daging”. Semoga dari beberapa poin yang saya share di atas juga bisa jadi inspirasi buat semua ya. Intinya mah, jadi orang tua itu berarti jadi pembelajar terus menerus. Mari bersemangat menjadi lebih baik!!

16 thoughts on “Setelah Membaca Buku “5 Guru Kecilku”

    1. Sepertinya yang dimaksud ibu Septi Peni pendiri Institut Ibu Profesional mba.. Kalo teh Kiki ini di bukunya saya membaca bahwa anak2nya ada jg yg ikut sekolah formal, terutama yg nomor 1 dan 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s