Institut Ibu Profesional

Universitas Kehidupan – Jurusan Manajemen Emosi

Mengikuti Matrikulasi IIP (Institut Ibu Profesional) yang didirikan oleh Ibu Septi Peni adalah salah satu bentuk usaha saya menjadi seorang ibu yang lebih baik. Saya sadar bahwa peran seorang ibu itu sangat kompleks. Tidak sekedar membesarkan anak tapi juga bagaimana membuat anak tumbuh dengan pribadi yang “besar” dan segala macam peran lainnya yang akan sangat panjang jika dijabarkan semua. Saya ingin menjadi seorang “ibu profesional” yang mengerjakan segala peran tersebut dengan optimal. Oleh karena itu, saya butuh ILMU dan tuntunan.

Minggu pertama di Matrikulasi IIP dimulai dengan pembahasan mengenai Adab terhadap Ilmu. Pembahasan berupa pemaparan materi di group WhatsApp yang dilanjutkan dengan diskusi/tanya jawab. Esoknya, peserta diminta mengerjakan tugas atau disebut NHW (Nice Homework). Di NHW pertama dari IIP saya sudah diminta menjawab beberapa pertanyaan yang buat saya bermakna dalam. Saya sampai mendiskusikan ini dengan suami. Karena saya juga ingin melihat dari sudut pandang suami, ia ingin partnernya ini memperbaiki diri dalam hal apa.

Berikut ini adalah jawabannya.

Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan ini.

Pertanyaannya sangat menguji, sebenarnya banyak sekali hal yang ingin sekali saya perbaiki dari diri saya. Saya sampai membuat list karena banyak sekali ilmu yang ingin saya tekuni. Tapi setelah dipikirkan masak-masak, saya ingin sekali bisa memiliki juga mengaplikasikan dengan sebenar-benarnya ilmu dalam mengelola emosi. Terutama emosi negatif yang setiap harinya pasti muncul baik dalam skala kecil maupun besar.

Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut.

Jujur saja, saya termasuk seseorang yang “bersumbu pendek”. Sebagai ibu, saya mudah merasa kesal dan emosi ketika berhadapan dengan anak atau suami. Alhamdulillahnya, emosi negatif saya ini tidak keluar dalam bentuk kekerasan fisik. Tapi, kalo sedang emosi saya kerap ngomel-ngomel gak karuan panjang kali lebar kali tinggi. Tapi bukan ngata-ngatain ya. Ngomel-ngomel yang kalo udah sangat kesal bisa berujung ke “judgement” atau “labeling”. Atau kalo gak ngomel-ngomel, saya kerap pusing sendiri lantas menangis sesenggukan sambil menahan dongkol. Dongkolnya itu masih dipendam banget di hati sampai pusing. Padahal ini gak bagus juga ya untuk kesehatan diri.

Dan sebenernya saya juga  sadar banget, kalo saya marah-marah ke anak sampe ujungnya “labelling”, gak bagus juga untuk perkembangan anak. Walaupun sudah cukup banyak buku parenting, artikel parenting, seminar, workshop, atau apapun sudah ditelan tapi jika saya tidak bisa mengelola emosi negatif maka ilmu-ilmu tersebut akhirnya buyar sudah. Gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga, mungkin begitu ya peribahasanya.

Makanya, di antara semua ilmu, mengelola emosi adalah hal yang sangat saya butuhkan. Supaya, saya bisa mengikat ilmu yang sudah saya dapatkan lalu mengaplikasikannya dengan baik. Supaya, ilmu-ilmu tersebut gak buyar pyar begitu aja hanya karena luapan emosi yang gak tepat. Supaya, anak saya juga gak ikut-ikutan menjadi seseorang “bersumbu pendek” seperti saya, walau indikasi ke sana udah terlihat pada anak saya yang pertama, karena anak itu peniru ulung kan😦

Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut?

  • Banyak membaca artikel, buku, atau media berkaitan dengan mengelola emosi, bersabar, ikhlas, pengembangan diri, dan hal yang bersinggungan dengannya seperti tentang parenting, rumah tangga, dll. Untuk menjadi pengingat bahwa ujian dalam universitas kehidupan itu pasti akan selalu muncul hingga ujung hayat. Jangan pernah menyerah berubah menjadi lebih baik. Juga untuk memperkaya wawasan supaya punya alternatif solusi sehingga emosi negatif bisa diredam
  • Bercerita dan berdiskusi dengan suami, meminta pendapatnya. Karena hal-hal yang membuat emosi sering berkaitan dengan urusan anak yang sangat aktif atau urusan rumah tangga. Suami sering memiliki pola pikir yang berbeda dan lebih logis dalam menyelesaikan masalah. Habis berdiskusi dengan suami biasanya saya akan merasa lebih plong
  • Introspeksi selalu di penghujung hari, apa saja yang sudah membuat emosi, dan mengapa
  • Perbanyak istighfar, baca Al-Qur’an, zikir, supaya hati bisa lembut dan tenang
  • Mengganti omelan-omelan yang bersifat “labelling negatif” ke “labelling positif”. Saya belajar dari buku “5 Guru Kecilku”nya teh Kiki Barkiah. Teh Kiki kerap “ngomel” hal yang positif ketika sedang kesal ke anaknya. Saya berusaha juga mencobanya. Misalkan ketika anak habis berbuat yang saya tidak suka lantas dia ngeyel ketika diberi tahu, “Ya Allah, nak, semoga nanti kamu jadi anak solehah! Berbakti pada kedua orang tua!”. Ini sebenernya termasuk poin belajar dari buku ya jadi punya alternatif solusi untuk meredam emosi negatif ke anak.
  • Belajar mengerem kata-kata, jika sudah sangat lelah, saya memilih untuk diam daripada berkata yang menyakiti
  • Belajar untuk memahami terlebih dahulu sebelum bereaksi. Belajar lebih logis dalam menghadapi masalah yang timbul. Supaya bukan emosi negatif yang timbul duluan tapi alternatif solusi untuk memperbaiki keadaan.

Berkaitan dengan adab menuntut ilmu,perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut.

  • Open mind, membuka pikiran terhadap ilmu, saran, masukan yang datang. Semisal dari suami dan dari sumber ilmu lainnya. Tidak mudah kesal jika diberi saran, walau itu termasuk hard truth
  • Menjadi pribadi yang lebih ikhlas dan berpikiran positif
  • Konsisten, walk the talk. Sesungguhnya menjaga konsistensi itu lebih sulit dibandingkan memulainya

Bismillah, semoga saja saya bisa menjadi “ibu profesional” versi saya dan bisa mengalahkan diri saya yang dulu, menjadi ibu yang lebih baik daripada sebelumnya.

#NHW1 #MatrikulasiIIPBatch2

14 thoughts on “Universitas Kehidupan – Jurusan Manajemen Emosi

  1. halo mbak, salam kenal. poin yang belajar ngerem kata-kata itu saya banget. kadang kalo kesal sama orang bawaannya pengen tak semprot aja biar lega. belakangan saya lebih banyak diem tapi kaya mendem gitu. mungkin emang kudunya dibarengi dengan banyak banyak zikir hehehe

  2. Dear Mb Leni, saya mau tanya pendapat mbak Leni ttg sesuatu hal. Apabila ada seorang Ibu bekerja namun dia tidak menjalankan pekerjaannya. Dia hanya datang untuk absen masuk dan pulang saja, selebihnya dia pulang ke rumah untuk “mengurus anak”. Dia, yg absen doang itu mendapat gaji dan tunjangan full tanpa potongan. Sementara orang2 yg benar2 banting tulang, pendapatanya tdk sebesar dia. Menurut Mbak Leni bagaimana? Terima kasih

    1. Halo mba, maaf ada beberapa hal kurang jelas, ini maksudnya dibandingkan dengan orang yang benar2 banting tulang di tempat kerja yang sama atau bukan? Jika case-nya berada di tempat kerja yang sama, berarti bisa jadi ada hal yang tidak beres di kantor tersebut. Perlu disuarakan/dikonfirmasikan pendapat mba ke atasan di kantor/manajemen di kantor supaya mereka tahu dari sudut pandang mba. Siapa tahu juga manajemen di kantor memiliki sudut pandang lain mengapa ibu tersebut tetap layak mendapatkan gaji dan tunjangan full.

      Tapi, kalau case-nya bukan seperti itu, saya hanya bisa bilang, kalau yang saya yakini saat ini, rezeki itu pasti tapi kemuliaan/keberkahanlah yang harus dicari. Saya mulai belajar berhenti untuk membanding2kan diri saya dengan lainnya terutama dalam hal rezeki. Insya Allah, masing-masing sudah ada jatahnya, dan saya berusaha untuk menjemput apa yang sudah jadi jatah saya itu dengan sebaik-baiknya usaha. Semoga Allah meridhoi.

      1. Halo dear mbak Leni. Menanggapi yang saya tanyakan kemarin mbak, iya dibandingkan dg orng2 yg banting tulang di tempat kerja yg sama dg tugas yg sama. Hal yg tdk beres itu spt apa ya mbak? Mengingat tunjangan kinerja di tempat saya didasarkan pada absen masuk dan pulang. Sementara pegawai tsb absen namun tidak bekerja dan tdk berada di kantor. Namun pegawai tsb akan sangat bisa masuk ke kantor apabila ada project kantor yg ada uangnya alias ada honor. Teman2 sudah berusaha memberi tahu tapi tetal “mental”.

  3. Halo mba, selain teman2 sesama pegawai, apakah tidak ada manager atau yang posisinya lebih tinggi yang sadar akan hal tersebut? Sebenarnya saya juga tidak bisa memberikan masukan apa-apa, karena di sini saya posisinya adalah orang luar yang tidak tahu kondisi real di sana🙂 coba didiskusikan dengan teman-teman mba yang lainnya, apakah perlu membawa permasalahannya ke atasan karena berdasarkan apa yang mbak bilang, teman2 juga sudah berusaha mengingatkan tapi mental. Dan ini menyangkut masalah profesionalitas di tempat kerja. Mohon maaf ya sepertinya itu saja yang bisa saya sarankan. Terimakasih🙂

    1. Dear mbak Leni
      Terimakasih banyak atas sarannya. Untuk atasan di tempat kami belum mengetahui krn sejak beberapa bulan yang lalu, kami sedang mengalami kekosongan. Mungkin tahun depan mulai ada yg baru. Oiya Mbak, saya mau tanya apakah di IIP ada pembelajaran mengenai profesionalitas di tempat kerja? *tentu saja dg tidak melupakan keluarga*. Thank U🙂

      1. Di IIP belajar mengenai profesionalitas kita sebagai Ibu, istri, dan sebagai seorang wanita itu sendiri dengan segala perannya, termasuk yg bekerja di sektor publik juga. Kita belajar menyelaraskan semuanya satu demi satu, tahap demi tahap Mba🙂

  4. Ohhh begitu…. Berati di IIP itu diajarkan mengenai bagaimana perempuan itu bs membagi waktu antara keluarga, pekerjaan dan lingkungan mbak? Tidak hanya tersentral pada keluarga saja dan mengabaikan pekerjaan yg juga sama2 mjd tanggung jawabnya..

  5. Dear mbak Leni
    Ehm…kalau seumpama nih, ada yg sudah bergabung di komunitas IIP namun perilakunya msh spt beliau yg saya kemukakan sebelumnya, berati orang2 harus memaklumi ya mbak?

    1. Yang saya pahami, sebagai sesama manusia kita bisa saling mengingatkan.. Tapi jika ternyata setelah diingatkan yang bersangkutan tidak kunjung berubah, kita gak bisa memaksanya Mba. Doakan saja semoga yang bersangkutan bisa menjadi lebih baik nanti. Mungkin dia sedang berproses juga. Dan kita tidak tahu di dalam prosesnya apa saja ujian yang ia hadapi sehingga proses itu memakan waktu lama baginya..

      1. Oke mbak… Maaf ya kalau pertanyaan2 saya ini tdk menyenangkan bagi Mbak krn saya penasaran dg komunitas yg mbak ikuti namun saya bertemu dg orng yg bertolak belakang sekali yg tergabung dlm komunitas tsb. Jujur saja saya blm bs spt Mbak Leni yg bs berkompromi dengan keadaan spt itu *doakan one day saya bs ya mbak :)*. Krn dr apa yg saya baca dr Ibu Septi, dia saja mau memilih salah 1 antara bekerja atau mjd ibu rumah tangga. Dan memilih dan menjalani pilihan tsb dg bertanggung jawab. Well, tp kalau mau dua2nya, mjd ibu RT dan bekerja namun tdk disertai tanggung jawab ats pilihannya tsb…saya msh tdk habis pikir. Btw, Thank U for sharing ya mbak…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s