Catatan Hati · Institut Ibu Profesional · Parenting · Refleksi Hati

Menuju “Ibu Profesional” versi Saya

Setelah pembahasan materi yang mana kali ini topiknya tentang serba-serbi “Ibu Profesional”, seperti biasa NHW aka Nice HomeWork aka TUGAS datang juga.

Baca juga tentang serba-serbi “Ibu Profesional” di: Menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga

Kali ini, tugasnya lebih berat dan menantang dari yang pertama. Peserta diminta membuat perangkat pengukur berupa “checklist indicator” untuk memudahkan dalam menggapai keinginan menjadi “ibu profesional” dilihat dari sisi sebagai individu, istri, juga ibu.

Peserta diminta membuat indikator yang bisa dijalankan TIDAK hanya dituliskan. Peserta diberikan tips dalam membuat indikator. Kunci dari membuat indikator disingkat menjadi SMART yaitu:

  • SPESIFIK (unik/detil)
  • MEASURABLE (terukur, contoh: dalam 1 bulan, 4 kali sharing hasil belajar)
  • ACHIEVABLE (bisa diraih, tidak terlalu susah dan tidak terlalu mudah)
  • REALISTIC (Berhubungan dengan kondisi kehidupan sehari-hari)
  • TIMEBOND ( Berikan batas waktu)

Tugas ini membuat saya harus kembali bertanya pada suami dan berbicara pada anak saya yang tertua (4,5 tahun). Mereka ingin saya menjadi seorang istri dan ibu yang bagaimana, apa yang membuat mereka bahagia dan bangga dengan keberadaan saya. Keliatannya kok serius banget ya, jadi ibu kok ribet banget ya, pasti ada aja yang kepikiran begitu. Kadang saya juga mikir begitu, hihi. Tapi ternyata sangat seru loh berdiskusi seperti ini, menanyakan hal-hal tersebut dari sudut pandang suami dan anak (walau anak saya jawabannya lucu secara masih belum paham). Saya dapat banyak sekali poin penting dan apa yang tadinya masih mengawang di pikiran mulai terstruktur. Mulai tergambar ke mana keluarga kami akan dibawa oleh saya selaku pelaksana harian atau manajer di rumah tangga. Bismillah, semoga indikator-indikator ini jadi pegangan saya untuk melangkah ke depannya.

Indikator Profesionalisme sebagai Istri
Target: menjadi istri yang lebih cekatan dalam urusan rumah tangga, menjadi manajer yang tahu hal terbaik untuk keluarga. Tahu strategi mencapainya dengan efektif.

Poin indikator:

  • Mampu memastikan keadaan rumah rapi dan nyaman untuk seluruh anggota keluarga, minimal 1x seminggu. Kata suami, tidak harus saya yang mengerjakan semuanya sendiri. Saya boleh mendelegasikannya kepada yang lain. Misal memanggil orang untuk membantu, dibayar 1 hari untuk bebersih rumah. Selama ini, saya keteteran salah satunya karena belum belajar mendelegasikan tugas. Semua pengennya dikerjakan sendiri. Seperti ingin membuktikan bahwa saya bisa. Tapi nyatanya memang kewajiban lebih banyak daripada waktu yang dipunya. Saya keteteran. Saya tidak mampu mengukur diri. Sepertinya, sekarang saatnya untuk belajar mendelegasikan tugas. Terlebih saya juga bisa dibilang “ibu pekerja” yang hampir seharian menghabiskan waktu di luar rumah (di toko) mengurus orderan-orderan sambil mengasuh 2 anak yang turut serta saya bawa ke toko
  • Memasak menu baru untuk masakan rumah setiap seminggu sekali. Supaya tidak bosan dengan menu yang itu-itu aja dan jadi lebih kreatif
  • Memastikan pekerjaan rumah diselesaikan terlebih dulu sebelum beraktifitas di luar. Bangun lebih pagi untuk mulai bekerja atau tidur lebih larut untuk menyelesaikan pekerjaan
  • Mampu mengelola keuangan keluarga. Mengurangi pengeluaran yang tidak terlalu penting dan mengalihkannya ke pos yang lebih bermanfaat, seperti untuk tabungan anak, pos belanja buku bulanan, kegiatan ekskul atau kegiatan lain di luar sekolah

Indikator Profesionalisme sebagai Ibu

Target: menjadi pendidik utama anak-anak, memberikan teladan.

Poin indikator:

  • Melakukan kegiatan kreatif edukatif yang unik bersama anak minimal seminggu 2x. Setiap hari sebenernya saya sudah sering menemani dia berkegiatan. Tapi lebih sering kegiatannya berulang setiap hari, seperti bermain congklak dan mewarnai.
  • Melakukan kegiatan edukatif yang menambah pemahaman anak terhadap Islam minimal seminggu 1x. 
  • Mengurangi waktu penggunaan gadget untuk saya sendiri terutama ketika anak sedang mengajak main. Berhubung saya pedagang online yang berhubungan dengan pelanggan via gadget maka interaksi dengan gadget ini cukup sering. Saya akan mencoba menguranginya dengan mengatur waktu penggunaan gadget. Waktu yang diperbolehkan buat saya memegang gadget adalah ketika anak saya bersekolah antara pukul 07.00-11.00 dan ketika malam saat anak-anak sudah beristirahat. Di siang atau sore hari, saya tetap menggunakan gadget untuk mengecek orderan masuk via website selama kurang lebih 30 menit. Selebihnya, saya dibantu oleh pegawai di toko untuk membalas orderan yang masuk via chat.
  • Menyediakan 1 menu makanan sehat bergizi untuk anak setiap hari. Harus lebih memperhatikan kandungan gizi makanan yang akan diberikan pada anak. Kurangi konsumsi junk food.

Indikator Profesionalisme Pribadi

Target: menjadi pribadi yang lebih bisa menjaga emosi, lebih dekat pada Allah.

Poin indikator:

  • SETIAP KALI merasakan marah terhadap anak, bisa langsung mengendalikannya, ucapkan istighfar, “omeli” anak dengan doa dan harapan daripada mengomeli dia dengan kata-kata “Kamu ini kalo dibilangin kok gak pernah dengerin”. Ganti saja dengan “omelan positif”, seperti “Ya Allah, semoga anak hamba ini jadi anak solehah, mendengarkan apa yang dikatakan ayah bunda, jadi anak yang lemah lembut”, dll. Alhamdulillah hal ini, sudah saya praktekkan sejak minggu lalu, sejak saya diminta menentukan jurusan yang ingin ditekuni di universitas kehidupan. Guess what, ternyata anak saya jadi lebih mudah diberikan arahan. Benar-benar alhamdulillah! Dia jadi mengerti bahwa Bunda-nya punya harapan positif untuk dia. Ingin dia jadi anak solehah dan harapan positif lainnya. PR-nya adalah semoga saya bisa konsisten melakukannya dan lambat laun saya bisa menjadi pribadi yang lebih menjaga emosi, pandai mengelola emosi
  • SETIAP KALI merasakan marah terhadap suami, kendalikan dengan diam terlebih dahulu. Jika sudah merasa lebih lega, komunikasikan hal yang membuat kesal pada suami. Selesaikan setiap masalah sebelum hari berakhir/sebelum tidur. Tidak memendam masalah hingga esok atau berhari-hari
  • Mengajak anak untuk turut beribadah. Wajib membaca Al-Quran setiap habis salat subuh dan maghrib untuk memberi teladan juga pada anak-anak. Ajak anak untuk turut solat berjamaah walaupun anak belum paham karena masih balita
  • Membaca minimal 1 buku per bulan. Bukunya berkaitan dengan parenting, bisnis, atau personal development lainnya. Setelah itu hasilnya didiskusikan bersama dengan suami. Jika memungkinkan, hasilnya juga bisa dituliskan di blog

Insya Allah, sementara itu dulu. Walaupun terlihat dikit tapi tetap butuh usaha keras untuk memulai lalu menjalankannya secara konsisten. Bismillah. Semangat jadi lebih baik! 💪

One thought on “Menuju “Ibu Profesional” versi Saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s