Parenting

“Mini Story Book” ala Bunda

Alhamdulillah, Hani di usianya yang 4 tahun 8 bulan udah cukup lancar membaca kata. Terutama yang terdiri dari dua atau tiga suku kata. Saya dan suami udah gak bisa main kode-kodean lagi dengan mengeja kata di depannya Hani. Dia pasti tahu hahaha 😅

Kalo ditanya apakah Hani diajarkan membaca di sekolah? Jawabannya, tidak. Pengenalan huruf aja baru dimulai dari A dan itu belum intens. FYI, Hani masih TK nol kecil sih. Sekolahnya Hani juga gak berfokus pada pengajaran calistung, tapi lebih ke pendidikan karakter. 

Lalu darimana Hani belajar membaca? Semua berawal dari aplikasi bermain untuk anak bernama Marbel (Mari Belajar sambil Bermain). Aplikasi Marbel Mengenal Huruf membuat Hani tahu dan hafal huruf A-Z. Saya gak pernah memaksa dia untuk belajar lewat aplikasi itu. Saya mengunduh aplikasi tersebut karena Hani minta dicarikan permainan. Saya lalu mencari permainan bersifat edukasi supaya tidak hanya hiburan yang didapatkan tapi ada ilmunya juga. Hani bermain Marbel setiap hari di waktu “screen-time”nya. 

Selain melalui Marbel, Hani juga belajar melalui temannya di toko. Yang dimaksud teman adalah anak dari salah seorang pegawai saya di toko. Usianya 5 tahun, setahun lebih tua dari Hani. Saya dan suami memasukkan anak tersebut di bimba AIUEO supaya bisa belajar calistung. Maksudnya supaya dia punya dasar ketika nanti masuk SD. Sepulang dari bimba, dia kerap mampir ke toko dan menemani ibunya bekerja. Jadilah dia dan Hani teman yang cukup akrab. Mereka sering bermain bersama, seperti main sekolah-sekolahan. Di mana gurunya mengajarkan pelajaran membaca. 

Nah, ceritanya jadi ngalor ngidul kan. Intinya sejak Hani mulai bisa membaca kalimat sederhana, saya berkeinginan untuk membelikannya buku cerita dengan kalimat sederhana (reading skill level 1 gitu), seperti buku Hal* B*kita atau buku import. Biasanya kan yang ada jenjang level membaca itu buku luar ya. Tapi, harganya cukup mahal 😅 Plus, kalo buku import kan pake bahasa Inggris ya.

Jadilah saya mikir, gimana ya bisa sediain bahan bacaan berbahasa Indonesia untuk semakin memperlancar kemampuan membacanya Hani. Lalu, tercetuslah ide untuk bikin sendiri buku-buku cerita mini untuk Hani. Ceritanya saya ngarang sendiri dengan memasukkan hal-hal yang akrab dengan Hani sehari-hari. Kalimatnya sederhana, terdiri dari 3-5 kata per kalimat. Kata-kata yang digunakan juga sederhana, terdiri dari 2-4 suku kata. Hanya terdiri dari 2 halaman, di mana ada 2 kolom cerita per halaman. Saya tambahkan juga gambar ilustrasi supaya menarik untuknya. Sayangnya, gambarnya masih comot sana sini 🙈 Tapi karena untuk keperluan pribadi dan tidak disebarluaskan saya pikir tak apa ya 😁

“Mini Story Book” ala Bunda. Diprintnya black and white biar ngirit 🙈 Plus disteples aja. Gak bisa bikin cantik-cantik karena Hani udah ngejar-ngejar gak sabar. Yang penting isinya aja lah ya 😁

Singkat kata, jadilah 3 “mini story” untuk Hani. Judulnya adalah Pagi yang Indah, Aku Sayang Adik, dan Aku Cinta Sekolah. Alhamdulillah, anaknya suka banget! Dia bahkan minta dibikinin cerita lagi sama Bundanya. Iya nak, insya Allah, Bunda siap! Udah kebayang nih mau bikin cerita apa aja untuk Hani.

NB: Seandainya ada ilustrator yang mau bikinin gambar untuk tiap ceritanya, mungkin saya bakalan bikin proyek e-book anak gratis kali ya. Buku cerita untuk anak yang baru belajar membaca, dibuat berjenjang, level 1, 2, dst. Siapa aja boleh unduh 😁 Hmm, tapi cerita bikinan saya juga gak tau deh ya menarik apa gak 😆

8 thoughts on ““Mini Story Book” ala Bunda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s