Catatan Hati · Institut Ibu Profesional · Refleksi Hati

Refleksi Diri: Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

Bunda, setelah kita belajar tentang “Membangun Peradaban dari Dalam Rumah” maka pekan ini kita akan belajar mempraktekkannya satu persatu.

Bagi anda yang sudah berkeluarga dan dikaruniai satu tim yang utuh sampai hari ini.

a. Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki “alasan kuat” bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda.Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami.

Surat di postingan terpisah. Klik: Surat Cinta untuk Suamiku

Setelah membaca surat dari saya, suami langsung cengar cengir sambil menggoda saya dan berkata, “suratnya bagus banget bunda. Detil dan berima. Kok sempet bikin yang seperti itu”. Baiklah 😅😅 Ya, dia memang gak romantis. Semoga saja, dia menangkap maksud dan harapan saya lewat Surat tersebut.

b.Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.

Anak pertama, perempuan, 4 tahun 8 bulan:

  • kemampuan verbal atau berbahasa sangat bagus. Kosakatanya menurut saya dan suami sangat kaya dan lebih banyak daripada anak seusianya
  • kemampuan berdialektika bagus. Dilihat dari mulai pintarnya ia menjawab dan mengaitkan jawabannya dengan suatu hal
  • keingintahuannya sangat tinggi. Yang membuat ia selalu haus akan kegiatan. Bahkan dia suka rela meminta belajar sendiri berbagai hal. Seperti membaca, menulis, berhitung tambah kurang sederhana, alhamdulillah di usia 4 tahun 8 bulan dia sudah bisa. Padahal tidak diajarkan di sekolah formalnya (tidak ada calistung).
  • tenaganya besar. Tidak kenal lelah. Jarang tidur siang

Anak kedua saya masih bayi, 5 bulan. Belum bisa dilihat potensinya.

c. Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Allah, memgapa anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yg anda miliki.

Potensi diri saya setelah mewawancarai pak suami juga:mrgreen:

  • suka belajar dan tekun, terutama untuk hal yang diminati
  • suka membantu orang yang kesulitan
  • mampu menjadi penengah dan pendamai, komplemen yang sangat pas dengan suami yang berapi-api
  • kreatif, punya banyak ide untuk berkreasi
  • menulis, terutama untuk yang diminati. Kata suami, tinggal diarahkan dan didampingi dengan editing yg baik:mrgreen:

Jika dipikirkan lagi, saya dan suami bisa dibilang cukup berkebalikan dari segi sifat juga kesukaan. Suami adalah seseorang yang mandiri, ia tidak suka membuat repot orang. Ia juga seseorang yang keras dan cukup perfeksionis, realistis, well planned, tidak menyukai kejutan, tapi kalau menyukai sesuatu bisa sangat berapi-api. Dan satu hal, suami jauh lebih suka berbicara dibandingkan saya yang seorang perempuan hahaha. Sepertinya jumlah kata-kata yang dikeluarkan olehnya per hari lebih banyak daripada saya.

Sedangkan saya sendiri, dilahirkan dari keluarga yang sangat mendambakan anak. Saya muncul ke dunia setelah penantian mama papa saya selama 14 tahun. Begitu saya lahir, kasih sayang sangat tercurah untuk saya. Bisa dibilang saya menjadi anak yang terlalu dilindungi dan dimanja. Hal ini berdampak pada kemandirian saya. Alhamdulillah, saya dijodohkan dengan suami, yang mandiri dan bisa mengarahkan istrinya dengan cukup sabar. Saya saat ini menjadi seseorang yang lebih mandiri dan suami saat ini pun berhasil berlatih menjadi seseorang yang lebih sabar. Mengurangi sifat perfeksionisnya dalam menghadapi saya dan anak, menggantinya dengan kelegowoan, hati yang lebih lembut, dan usaha untuk memahami apa yang dihadapi keluarga. Saat ini, mungkin kami ditakdirkan Allah untuk bertemu supaya bisa saling belajar menjadi lebih baik. Lalu bersama, mendidik anak-anak menjadi lebih baik daripada kedua orang tuanya.

Dari suami, saya juga belajar menjadi lebih realistis. Awalnya saya seorang pemimpi yang kadang tidak bisa mengukur diri dan membuat perencanaan dengan matang. Suami biasanya akan menyadarkan saya, membawa kaki saya yang sudah melayang-layang di angkasa karena membayangkan impian, kembali berpijak ke bumi. Tapi dari sifat saya yang “pemimpi” ini, suami juga merasa bahwa ia belajar. Untuk tidak terlalu kaku dan lebih fleksibel serta berani mengambil resiko. Salah satu keputusan beresiko besar yang ia ambil saat ini adalah resign dari kantornya, lalu memutuskan menjadi “freelancer” demi mendapatkan quality time yang lebih banyak untuk keluarga. Keputusan ini menjadi life changing experience buat saya dan suami. Yang pasti, saya dan suami makin mendalami karakter masing-masing, karakter anak-anak kami, dan banyak hal lainnya.

d. Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan disini?

Alhamdulillah saya tinggal di komplek mungil dengan tetangga kanan kiri yang baik. Soleh/solehah, ilmu agamanya baik, dan berpendidikan. Di sini saya merasakan penjagaan Allah kepada keluarga kecil kami. Saya merasa cukup terbantu dengan hal ini, karena saya jadi merasa tenang ketika anak bergaul dengan tetangga. “Butuh satu kampung untuk mendidik anak, kan”. Karena itu saya sangat bersyukur tinggal di “kampung” yang warganya baik.

Namun, di luar komplek, tinggal warga asli yang berbeda kondisi ekonomi ataupun latar belakang pendidikannya. Saya merasa sedikit was-was ketika melepas anak saya main bersama dengan anak-anak di luar komplek. Khawatir akan ada nilai yang tidak sejalan dengan yang diajarkan di rumah lalu anak melihatnya. Pada akhirnya, saya suka memberi usulan pada anak untuk mengajak temannya di luar komplek, bermain di dalam komplek saja. Supaya saya lebih mudah mengawasi apa saja yang dilakukan.

Tantangannya adalah bagaimana membuat lingkungan di luar komplek juga menjadi tempat aman untuk anak bertumbuh kembang. Atau bisa jadi dibalik, tantangannya adalah bagaimana membuat anak-anak saya memiliki dasar iman dan karakter positif yang kuat sehingga tidak mudah terpengaruh lingkungan sekitar.
Tantangan pertama bisa dijawab dengan usaha ekstra. Mengajak orang-orang di sekitar atau minimal anak-anaknya melakukan kegiatan yang menyenangkan dan edukatif. Dulu ketika saya belum menikah, saya sempat membuat rumah belajar di rumah orang tua. Saya mengajak anak di sekitaran rumah yang kurang mampu untuk belajar bersama dengan cara menyenangkan. Mulai dari TK-SD. Saya membuat berbagai macam permainan, lomba, dengan hadiah yang menarik. Semuanya gratis. Bisa jadi hal yang sama saya lakukan kembali saat ini. Dengan bantuan suami dan anak juga tetangga dalam komplek yang saya yakini adalah orang-orang baik, soleh/solehah dan berpendidikan. Sedangkan tantangan kedua bisa dijawab dengan menanamkan iman kepada anak sedari kecil, memberikan pendidikan dan teladan padanya. Wallahu’alam semoga diberikan kekuatan.

* * *

Berbicara tentang peran spesifik keluarga, tentu sangat berat dan jawabannya mungkin tidak muncul sekarang. Karena berkaitan dengan potensi yang dimiliki tiap anggota keluarga, di mana hal ini masih terus berproses. Saat ini pun saya masih merasa belum selesai dengan diri sendiri, terkadang masih meraba apa yang diinginkan, apa yang dimaui. Saya juga merasa belum selesai dengan anak-anak karena mereka masih kecil-kecil. Ke depannya, saya berkeinginan menjadikan anak-anak saya wanita solehah yang berilmu. Mereka bisa menentukan minat masing-masing dan mendalaminya dengan baik. Jadi ahli di bidangnya lalu bermanfaat untuk sekitar. Saya pun akan selalu mendukung suami saya dalam meraih impiannya. Ia memiliki potensi menjadi trainer yang handal. Saya sendiri juga tetap berkeinginan membuat suatu kegiatan sosial dalam membantu mereka yang kurang mampu. Bismillah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s