Belajar dari Buku · Parenting

Odong-Odong Dongeng – Mengembangkan Imajinasi dan Kreativitas Anak

Odong-Odong Dongeng, buku anak favorit SAYA saat ini. Iya, favorit saya. Bukan favorit Hani. Loh, kenapa ya? Sini saya ceritain:mrgreen:

Pertama kali tahu buku ini dari perpustakaan sekolahnya Hani. Ketika itu, kami menjatuhkan pilihan pada buku ini untuk dipinjam dan dibaca bersama di rumah. Buku pertama dari Odong-Odong Dongeng yang dibaca judulnya Tikus dan Singa. Pertama baca langsung jatuh cinta (lebaaay haha). Saya mikir keren juga nih konsepnya. Nah, karena saya suka, makanya pas lagi jalan-jalan ke toko buku, saya langsung mencari buku Odong-Odong Dongeng yang lain dan membelinya. Saya suka “gelap mata” kalo urusan buku hiks. Saya memilih buku berjudul Kucing dan Anjing. Buku tersebut yang akan saya jadikan bahasan kenapa saya menyukainya di postingan ini 😁

*Maaf, spoiler alert* Bukunya berkisah tentang Kucing dan Anjing yang hidup bermusuhan. Kampung mereka terpisah oleh dinding yang tinggi. Sampai suatu hari, bola milik Kucing jatuh ke kampung Anjing. Dan pesawat kertas milik Anjing terbang ke kampung Kucing. Lantas, apa ya yang terjadi?

Nah, tidak seperti buku cerita anak pada umumnya, akhir cerita dari Odong-Odong Dongeng ini masih bisa dikembangkan sendiri oleh anak dan bisa jadi sangat bervariasi. Apakah sejenis buku “Tentukan Sendiri Petualanganmu?” yang akhir kisah akan berbeda jika kita memilih melanjutkan ke halaman yang berbeda? Misal, jika anak memilih melanjutkan ke halaman 20, maka akhir ceritanya bahagia, sang putri akan bertemu pangeran dan hidup bahagia selamanya. Sedangkan jika halaman 25 yang dipilih, maka sang putri justru bertemu penyihir jahat lalu disihir menjadi putri tidur?

TIDAK. Odong-Odong Dongeng berbeda. Karena bagaimana akhirnya, diserahkan pada IMAJINASI setiap anak yang membacanya. Justru buku Odong-Odong Dongeng “menutup” halamannya dengan pertanyaan-pertanyaan terbuka yang jawabannya pun bisa apa saja. Tergantung IMAJINASI anak.

Misalkan, pada buku Kucing dan Anjing, setelah cerita “berakhir”, muncul pertanyaan-pertanyaan berikut yang meminta anak mengembangkan imajinasi dan kreativitasnya dalam menjawab.

“Seandainya Kucing dan Anjing tidak saling mengembalikan mainan mereka.. Apa yang akan terjadi?”

“Seandainya Kucing dan Anjing tidak bermain bola dan pesawat kertas, apa yang akan mereka mainkan?”

Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang meminta anak untuk berpikir. Nah, ini kenapa Hani gak suka sama bukunya 😑 Dia merasa tidak nyaman diberondong oleh pertanyaan yang memaksanya untuk berpikir kreatif. Dia masih lebih sering menjawab “gak tahuuuu” 😐 Sepertinya, karena selama ini, saya terlalu sering “menyuapinya” dengan berbagai cerita bukan mengajaknya ikut berpikir kreatif. Jadi dia ya terima-terima aja tuh kalo ada cerita penguin itu hidup di kutub, unta hidup di gurun. Belum ada pertanyaan-pertanyaan usil tercetus dari mulutnya seperti “Kenapa penguin gak hidup di Grogol, Depok aja sama seperti kita? Kenapa??? Kenapaaa?” 😂😂

Berkat Odong-Odong Dongeng, saya jadi kembali tersadar. Bahwa ada satu PR yang harus saya kejar saat ini. Yaitu mengembangkan logika, imajinasi, dan kreativitas anak dengan mengembangkan keterampilannya bertanya atau menghadapi pertanyaan. Dengan terampil bertanya dan tidak menelan bulat-bulat informasi yang ada, saya yakin bahwa anak juga bisa mengembangkan struktur berpikirnya. Dan bisa jadi anak-anak tersebut nantinya di masa depan menjadi penemu/inovator/ilmuwan yang karya-karyanya bermanfaat buat masyarakat.

Sejak itu, saya jadi sering mengajak Hani “mengobrol lebih dalam”. Misalkan saat dia sedang bermain peran, saya tidak hanya merespon dengan jawaban “Ya, makasih Hani kuenya” atau “Udah cukup kuenya ya, Bundanya kenyang”. Tapi memberi respon lebih dan berusaha terlibat dengan mengajukan banyak pertanyaan seperti, “Hani masak kue apa?”. “Gimana cara masaknya?”. ” Oh, kenapa pake kertas ya adonannya? Kenapa gak pake plastik?”. “Kuenya untuk siapa aja sih?”. Dan lain sebagainya. Yang saya lakukan, mirip dengan yang buku Odong-Odong Dongeng lakukan di akhir cerita. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Harapannya anak bisa mengembangkan imajinasi dan kreativitasnya!

Kelebihan lain dari buku Odong-Odong Dongeng adalah ilustrasinya yang bagus. Selayaknya buku anak di mana ilustrasi bagus adalah kewajiban. Sayangnya, bukunya berupa board book. Jadi, harganya ya lumayanlah yaaa kalau mau kumpulin lengkap sampai 12 judul 😅 Di mana harga per buku di kisaran Rp 33.150 – Rp 39.000. Buku dari penerbit Noura Books yang direkomendasikan untuk anak umur 3 tahun ke atas ini mudah ditemukan baik di toko buku online seperti mizanstore.com maupun offline seperti Gramedia, dll. Yang penasaran, selamat berburu bukunya, siapa tau suka juga seperti saya😀

4 thoughts on “Odong-Odong Dongeng – Mengembangkan Imajinasi dan Kreativitas Anak

  1. Samaaa mbak, kalo udh ttg buku, aku bisa kalap lah.. Pasti jd bablas belinya. Syukurnya anakku jg suka baca, jd aku makin seneng beliin dia buku2 anak begini. Walopun anakku jg kurang suka tuh lg dibacain dongeng, trs ditanya2 utk mengembangkan ceritanya😀. Iya sih, kreativitas dan imajinasi anak memang harus dilatih juga yaa.. Supaya dia terbiasa berfikir begitu.. Keren bukunya.. Ntr aku mw cari juga ah di gramed

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s