Institut Ibu Profesional

Bernegosiasi dengan Anak

Anak saya yang pertama sangat suka dengan kegiatan membaca buku. Hampir setiap hari, ia pasti akan meminjam minimal 2 buku di perpustakaan sekolahnya untuk dibaca sendiri atau dibacakan oleh saya. Alhamdulillah, tidak ada biaya sewa yang dikenakan. Sering meminjam buku pun jadi dilakukan tanpa pikir panjang. Asyik sekali ya 😀

Walaupun sudah meminjam buku dari perpustakaan dan membacanya di siang hari, namun hal ini rasa-rasanya kurang untuk anak saya. Di malam hari menjelang tidur, dia akan membujuk saya membacakan satu buku lagi atau minimal 2 buku yang ceritanya pendek. Biasanya sih saya meng-iya-kan lalu kami membaca buku yang dipilih bersama-sama. Adiknya yang masih bayi juga ikut mendengarkan. Tapi, beberapa hari ini, saya sedang agak lelah. Belum lagi kalau adiknya menangis ketika hendak ditidurkan. Kegiatan membacakan buku menjelang tidur rasanya ingin saya lewati saja. Supaya saya bisa langsung menidurkan adiknya kemudian beralih melakukan kegiatan lainnya.

Saya mencoba mencari cara bagaimana menyampaikannya dengan baik supaya anak saya itu mau menerima dan dia tidak merasa sedih karena tidak dibacakan buku lagi ketika hendak tidur. Saya lalu mencoba menggeser jadwal membacanya tadi. Saya bacakan buku-buku dari perpustakaan di siang hari setelah pulang sekolah. Lalu, saya bacakan lagi beberapa cerita di sore juga malam hari ketika dia sedang makan malam. Setelah selesai makan malam, saya lalu berbicara padanya dengan perlahan sambil terus menatapnya. Saya mencoba mengajaknya bernegosiasi. Pertama saya tak lupa mengucapkan terimakasih kepadanya karena sudah menghabiskan makanannya. Kedua saya mengajaknya mengucapkan hamdalah karena telah membaca cukup banyak buku hari ini. Lalu, saya mengatakan padanya untuk bersiap tidur karena besok akan bangun pagi untuk bersekolah. Karena buku-buku sudah dibacakan, maka kakak bisa langsung tidur setelah membaca doa. Alhamdulillah, dia pun paham dan menyetujuinya. Saya lalu menghujaninya dengan ciuman dan pelukan. Dan tak lama setelah rebahan di kasur, dia pun tidur.

Supaya berhasil ketika berkomunikasi dengan anak, kita sebagai orang tua memang perlu pintar-pintar merasakan emosi apa yang sedang dialami oleh anak. Lalu, kita mencoba menempatkan diri dalam posisi anak dan mencari solusi terbaik yang kiranya tidak menyakiti hati anak tapi juga tidak menzalimi diri sendiri. Apresiasi seperti pelukan atau ciuman juga perlu diberikan kepada anak ketika ia mudah diajak berkomunikasi serta mau bekerja sama saling mendukung antar anggota keluarga.

#hari8

#tantangan10 hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s